Monday, 8 July 2013

Ketika Idealisme Diperkosa Realita

Idealisme adalah sebuah paham yang lebih menekankan tentang keunggulan sebuah pemikiran (mind), roh (soul), jiwa (spirit) daripada keberadaan yang besifat kebendaan ataupun material. Begitulah plato filsuf Yunani didikan socrates mengemukakan pemikirannya tentang sebuah idealisme. 
Apabila dikaji lebih lanjut idealisme bermula pada sebuah pemikiran yang tidak berujung, seperti pengetahuan, walaupun banyak pepatah yang menyebutkan bahwa ilmu sampai di ujung negeri Cina, tapi agaknya pepatah ini harus terdefinisikan kembali, karena pengetahuan tak pernah berujung. 

Dalam alurnya suatu pengetahuan bermula dari pemikiran ataupun proses mengingat yang berulang-ulang hingga terciptanya suatu pemikiran baru, pengetahuan baru dan seterusnya. Idealisme menekankan bahwa kebenaran hanya terdapat dalam jiwa yang berasal dari akal budi, bukan dari panca indera yang bersifat kebendaan, seringkali orang-orang tertipu oleh kesaksian panca inderanya sendiri. 

Berbicara idealis tentang idealis mengingatkan kita pada seorang tokoh idealis yang mati muda, Soe Hok Gie 17/12/1942-16/12/1969. Dia telah memenuhi panggilan jiwanya  untuk beribcara tentang kebenaran, kebenaran yang tak berdasar pada suatu golongan.


 Dia selalu resah hingga dia bertanya pada dirinya seperti dalam salah satu kutipan catatan harian berikut ini. "Soe apa yang sedang kau pikirkan?" Lalu dia sendiri menjawab "Saya sedang memikirkan kehidupan yang menarik, saya sedang memikirkan keindahan dunia ini, saya sedang memikirkan kebesaran manusia, Dan bagaimana saya harus mengisi hidup saya sendiri....." 
Dalam pergerakannya Soe berhasil berperan serta dalam menjatuhkan rezim Sokearno yang pada saat itu sudah tidak sejalan dengan amanat rakyat. Dan tak adalagi hal yang paling puitis selain berbicara tentang kebenaran. 

Tinggalkan sejenak tentang itu, mari beranjak pada realita yang ada di pelupuk mata, realita yang harus ditelan bulat-bulat sebentuk pil pahit, ataupun hisapan candu yang memabukan. Kenyataan yang tak terdefinisikan dengan kondisi yang serba samar, penuh kepalsuan, nyaman berselimutkan abu-abu kehidupan. 

Idealisme saat ini seolah-oleh diperkosa oleh realita yang ada, mau tidak mau, inilah kenyataan yang harus dinikmati terpaksa ataupun tidak, realita tetap terjadi, dan kita seolah-oleh menikmati ini semuanya dengan segala kebendaan ataupun kesaksian panca indera kita. Tak ada lagi idealisme, survival menjadi tameng utama dalam argumentasi permasalahan ini. Pendidikan yang bermakna pembebasan dari belenggu ketidaktahuan akan suatu hal luntur dalam ketidakpaduan antara keperkasaan realita dan idealisme yang feminim, anggun, tapi lemah. Tak ada lagi pembeda antara terdidik dan orang-orang yang masih terbelenggu dalam latar belakang ketidaktahuan, pembedanya hanyalah kebendaan yang terekam dalam kesaksian panca indera. 

Lalu sampai kapan Idelisme yang tertanam dalam hakikat suatu makhluk yang kita sebut manusia rela diperkosa oleh realita yang begitu gagahnya ? Agaknya harus diluruskan pandangan antara ikhlas menerima dengan ketidakpedulian, tipis memang, tapi berujung pada dua tittik yang berbeda, tak ada titik temu sama sekali. Tulisan ini saya dedikasikan bagi saya, dan makhluk-makhluk yang mempunyai panggilan jiwa akan adanya kebenaran yang hakiki, berasal dari akal budi, logika dan penafsiran-penafsiran ataupun mimpi-mimpi atau visi-visi yang masih tak berdaya melawan keperkasaan relita. 

Realisme menafsirkan akan kebenaran yang pasrah, mengalir, mengikuti arus yang ada, tentunya ini akan bertolak belakang dengan idelisme yang membenarkan suatu kebenaran atas penalaran logika, pandangan realisme berpendapat bahwa idealisme hanyalah pemikiran orang-orang sakit jiwa yang tidak terima pada kenyataan. Sulit untuk menemukan titik temu. Seperti Soe Hok Gie yang mati dengan membawa idealisme bangsa yang belum terwujud hingga saat ini. Bahkan dalam nisannya Soe masih resah "Nobody knows the trouble i can see, Nobody knows my sorrow". Idealisme mengantarkan kita akan adanya kesadaran bagian dari keseluruhan, bagian dari badan, warga dari negara, makhluk dari semesta.  

Agaknya filosofi Yin dan Yang pada salah satu pemecahan solusi ketidakseimbangan pada idealisme dan realita yang ada. Dalam padangannya yin dan yang memiki dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan dan saling membangun, dipisahkan dalam garis yang fleksibel dan dinamis, tapi tetap dalam sutu lingkaran keseimbangan. Jika dihubungkan teori plato tentang idealisme mengarahkan pada kesadaran adanya bagian dari keseluruhan mempunyai benang merah yang segaris dengan filosofi yin dan yang. 

Idealisme yang realistis, kebenaran yang berani bersuara walaupun sendiri, realistis dalam ritmenya, semuanya telah berada pada posnya masing-masing, semuanya berada pada peran masing-masing, dalam dunia kebendaan yang penuh kepalsuan, ataupun dunia idealsime yang berbicara tentang kebenaran pemikiran, hitam dan putih, dua warna yang kontras, terdefinisikan dengan jalas, keluar dari zona nyaman abu-abu, berbicara dalam realita, berpikir dalam idealisme, kitalah generasi penegas identitas, penerus visi yang belum tersampaikan, penyair yang berbicara tentang kebenaran. Bagian dari keseluruhan, jadilah bagian yang bertindak, karena bagian akan saling mempengaruhi bagian lain, hingga sampai pada keseluruhan, mulailah menjadi bagian itu, karena bagian itu adalah saya!