Tuesday, 28 January 2014

Penggalan Bermotif Prolog

Uap kopi telah mengalah pada riuh asap rokok yang tergopoh melawan hembusan angin dari baling-baling kipas yang masih sedia untuk berputar diatas jendala kamar petak yang tak terlalu luas untuk sebuah ruangan dengan kamar mandi seadanya, ditambah dengan sebuah lemari memanjang dan kompor gunung kecil yang siaga memanaskan senesting air untuk menyeduh kopi atau sebagai pertolongan pada keadaan gawat darurat, sebungkus mie instant atau sebutir telur kerap kali sering nongkrong diatasnya.

Batang rokok telah menemui ujungnya, dengan selingan beberapa kali tegukan kopi yang menghangatkan tubuh, atau menghangatkan suasana yang masih basah karena resah yang keliru. Kopi memang bukan sekedar penghangat, tapi lebih dari sebuah rasa yang membawa suasana pada kenyamanan yang hangat walaupun harus kerap mengalah dengan semerbak asap rokok yang terus melanda, seolah menjelma dalam suatu bentuk kenikmatan. Tapi ini bukan cerita tentang asap rokok atau secangkir kopi, ini adalah sebuah lanjutan dari peristiwa besar yang pernah aku alami dengan kombinasi pada saat jentikan jari silih berganti menekan tuts keyboard sementara deretean playlist masih berada pada posnya untuk menunggu giliran dalam mode shuffle, Every's body changing dari Keane berada pada urutan pertama dalam musik pembuka malam ini. Baru saja seperangkat kaos, sweater, dan celana pendek terlempar pada kantong cucian semuanya basah tak bercelah ditimpa hujan rintik yang telah deras dalam sekejap. Masih beruntung rupanya misi utama mengirimkan sebuah paket Bapakku disana telah terselasikan, hanya saja misi kedua untuk mencari sebuah buku dari seorang penulis novel yang baru aku kenal melalui perkenalan antar sahabat belum terpenuhi. Satu jam yang lalu, baru saja aku membereskan resi pembayaran ongkos paket yang dikirimkan bersamaan dalam sebuah amplop coklat berukuran satu setengh kali A4, titik air mulai nampak diatas permukaan tangki motor hitam yang agak kusam namun terlihat mengkilap terbias cahaya neon seadanya, langit malam jakarta selatan masih samar, jarak sekitar dua kilometer dalam hitungan matematika bisa ku tempuh dalam waktu kurang dari lima menit, tapi langit tak menampakkan bintangnya saat ini. Ternyata logika bermain dengan kuat dalam otakku, tanpa berpikir panjang kupacu motor menembus rintik hujan, dua, tiga belokan titik-titik air semakin memenuhi kaca helm full face yang masih melekat di kepalaku, masih bisa tertahan hingga belokan terakhir sebelum jalanan lurus dibawah flyover cassablanca hujan menjadi buas, sentuhan lembut tak lagi kurasakan dari rintik yang menyapa beberapa detik yang lalu, kini hujan menyerbu dalam terjangan rintik yang tak lagi ramah, sebuah keadaan yang memaksa untuk membuat keputusan dalam waktu singkat antara lanjut atau kembali pulang. Tak perlu menunggu hingga satu menit, stang motor langsung terbanting ke kanan berputar menyilang sempat melambatkan sebuah taxi yang melaju tidak terlalu cepat dalam lampu dekat yang semakin menjelaskan rintik yang semakin bertambah, tak ku pedulikan terus berpacu berlomba dengan angin yang membawa rintik semakin buas menerka segala permukaan. Derau rintik yang sumbang sedikit mengaburkan pandangan pada jalan yang aku lalui, sempat beberapa kali kutemui jalan yang berbeda pada saat aku beranjak dari tempat pengiriman paket tadi, sementara basah telah menembus hingga kulit permukaan tubuh bersamaan dengan rasa dingin yang mulai menjalar. Kembali tak kuhiraukan terus saja ku pacu, hingga kembali pada trek yang tadi aku lalui, terus saja, lurus saja, belok lagi, kembali lurus lagi, bintik air mulai berkurang seiring jarak yang semakin dekat dengan arah pulang, dan ditemui hujan yang belum terlalu begitu deras membawa perjalanan yang menyesakkan, sesak karena aku berada diantara para pengendara motor yang masih hangat dengan sedikit bintik air yang menggantung dan jatuh diterpa laju angin motor yang terus berlalu. Gerbang masuk yang belum terlalu basah seperti tersenyum keheranan atau sedikit tertawa melihat penghuninya basah kuyup, ya resah yang berujung basah saat ini.

Ku tuangkan segelas air dari galon yang tak berbungkus dispenser atau tempat air semacamnya, mungkin kamar yang terlalu sempit bisa jadi alasan konyol hingga saat ini belum tercantumnya dispenser dalam dafatar belanja ku bulan ini, atau mungkin waktu yang tidak sempat bisa jadi alasan bodoh lainnya. Tuangkan saja, nyalakan saja kompornya, letakan saja nestingnya, sementara sebuah laptop yang tergelatak diatas kasur busa seadanya telah menanti tuannya untuk segera dicumbui. Sempat ku post beberapa twit dalam account twitter sebelum memulai tulisan ini. "Telah nyata langitnya tak berbintang, masih dipaksakan, resah yang membawa basah  #kabulusan (red : kedinginan)". Dan mari kita mulai cerita yang sempat terpotong oleh kesibukan Ujian Akhir semester sepekan lalu, atau bahkan masih menyisakan satu mata kuliah ujian susulan. Sementara pekerjaan di kantor masih menumpuk bertajuk sibuk, dalam jadwal yang padat, hanya menyisakan malam yang ku lulalui dengan lelusa. Keleluasaan sepertinya belum berlaku pada tulisan ini, jadikan saja ini penggalan bermotif prolog untuk sebuah kisah yang telah nyata dalam keberadaanya, ilustrasikan saja pada persepsi, biarkan imajinasi merotasi pemikiran, terlalu padat jika dimuatkan pada sebuah post atau ku tulis saja dalam bagian yang lain, untuk sebuah peristiwa yang terlalu berharga untuk tak berbagi karena pada saat itu "Bintang itu terlihat di atas langit Mahameru". 

Tuesday, 14 January 2014

Sepenggal Malam di Kalimati

Dilema ini kembali terjadi, ketika Tuhan berbicara melalui ciptaan-Nya, tak sedikitpun keraguan pada-Mu Ya Allah Sang penguasa alam. Hati ini meringis dalam gerimis, hujan-Mu yang membawa kabut menyelimuti mahameru. Diantara nyali dan kebodohan, tekad dan ambisi, tersisip paduan kata-kata ya dan tidak. 

Ya Allah jiwa ini menangis, mengalir dalam aliran cerukan sungai-Mu, semeru, meratapi kebimbangan untuk menjalani tujuan, Ya Allah, hamba berlumur dosa, bernyawa atas kehendak-Mu, bernapas dalam hembusan udara-Mu, terjaga dalam setiap aibku, terlampau jauh wajah ini dalam dekapan-Mu, tapi tak ada lagi pertolongan atas kekuasaa-Mu, Ya Allah, batin ini menjerit memohon memberikan kesmpatan pada hamba-Mu untuk menjejaki kemegahanmu Ya Allah.

Ampunkanlah atas segala kelalaianku, sepenuhnya hamba bersujud padamu, memohon menampakan bintang besok malam pertanda kecerahan dan kuatkan hamba untuk bersujud padamu di puncak mahameru,

Hambamu yang lalai dan berlumur dosa, berserah pada-Mu sepenuhnya kuasa-Mu tiada tara, meniupkan kabut dan menampakan kecerahan serta kekuatan padaku untuk bersujud dan kembali dalam ikhtiar dengan selamat.

***
Ibu, ingin sekali aku mendekapmu menumpahkan segala kebimbanganku dalam hangatnya belaianmu Ibu, selama raga ini bernyawa mungkin tak ada kejutan romantis seperti yang telah kulakukan pada wanita-wanita yang pernah aku anggap sebagai calon pendamping hidup.

Tapi aku ingin belajar romantis padamu, semesra kau mendekapku dalam setiap sujud dua per tiga malammu, berharap kuasa-Nya selalu membimbingku dalam jalan yang diridhai-Nya. Ibu, tak berartinya ini dalam kasih sayangmu padaku, tapi aku cinta padamu, Ibu, dengan segala kesadaranku.

Ibu maam ini aku berada dalam ruangan kosong dengan ransel-ransel yang berjejer menunggu kepastian, dalam senyap rekan-rekan yang tertidut dalam kelelehan, tapi aku masih ingin menulis dalam kebimbanganku, dalam hati yang masih menangis dalam gerimis hujan di kalimati, dalam rencana pendakian yang tertunda, dalam kabut yang masih menyelubungi puncak mahameru. 

Ibu sekali lagi ingin ku mendekapmu, mencurahkan cintaku padamu, sebelumnya telah kutulis surat untuk Allah, dalam do'a, yang berderet dalam goresan tinta malam ini, berharap besok terlihat bintang untuk menampakan kecerahan cuaca, dan berharap diberikan kekuatan untuk mencapai puncak mahameru, menyaksikan kemegahanmu, ciptaan-Nya, bersujud pada-Nya, dan memanjatkan doa untukmu, untukku, Bapakku, dan saudara-saudaraku, abadi dalam surga-Nya.

Dari yang mencintaimu ...

Kalimati, 7 Desember 20130
1.42-01.58