Dilema ini kembali terjadi, ketika Tuhan berbicara melalui ciptaan-Nya, tak sedikitpun keraguan pada-Mu Ya Allah Sang penguasa alam. Hati ini meringis dalam gerimis, hujan-Mu yang membawa kabut menyelimuti mahameru. Diantara nyali dan kebodohan, tekad dan ambisi, tersisip paduan kata-kata ya dan tidak.
Ya Allah jiwa ini menangis, mengalir dalam aliran cerukan sungai-Mu, semeru, meratapi kebimbangan untuk menjalani tujuan, Ya Allah, hamba berlumur dosa, bernyawa atas kehendak-Mu, bernapas dalam hembusan udara-Mu, terjaga dalam setiap aibku, terlampau jauh wajah ini dalam dekapan-Mu, tapi tak ada lagi pertolongan atas kekuasaa-Mu, Ya Allah, batin ini menjerit memohon memberikan kesmpatan pada hamba-Mu untuk menjejaki kemegahanmu Ya Allah.
Ampunkanlah atas segala kelalaianku, sepenuhnya hamba bersujud padamu, memohon menampakan bintang besok malam pertanda kecerahan dan kuatkan hamba untuk bersujud padamu di puncak mahameru,
Hambamu yang lalai dan berlumur dosa, berserah pada-Mu sepenuhnya kuasa-Mu tiada tara, meniupkan kabut dan menampakan kecerahan serta kekuatan padaku untuk bersujud dan kembali dalam ikhtiar dengan selamat.
***
Ibu, ingin sekali aku mendekapmu menumpahkan segala kebimbanganku dalam hangatnya belaianmu Ibu, selama raga ini bernyawa mungkin tak ada kejutan romantis seperti yang telah kulakukan pada wanita-wanita yang pernah aku anggap sebagai calon pendamping hidup.
Tapi aku ingin belajar romantis padamu, semesra kau mendekapku dalam setiap sujud dua per tiga malammu, berharap kuasa-Nya selalu membimbingku dalam jalan yang diridhai-Nya. Ibu, tak berartinya ini dalam kasih sayangmu padaku, tapi aku cinta padamu, Ibu, dengan segala kesadaranku.
Ibu maam ini aku berada dalam ruangan kosong dengan ransel-ransel yang berjejer menunggu kepastian, dalam senyap rekan-rekan yang tertidut dalam kelelehan, tapi aku masih ingin menulis dalam kebimbanganku, dalam hati yang masih menangis dalam gerimis hujan di kalimati, dalam rencana pendakian yang tertunda, dalam kabut yang masih menyelubungi puncak mahameru.
Ibu sekali lagi ingin ku mendekapmu, mencurahkan cintaku padamu, sebelumnya telah kutulis surat untuk Allah, dalam do'a, yang berderet dalam goresan tinta malam ini, berharap besok terlihat bintang untuk menampakan kecerahan cuaca, dan berharap diberikan kekuatan untuk mencapai puncak mahameru, menyaksikan kemegahanmu, ciptaan-Nya, bersujud pada-Nya, dan memanjatkan doa untukmu, untukku, Bapakku, dan saudara-saudaraku, abadi dalam surga-Nya.
Dari yang mencintaimu ...
Kalimati, 7 Desember 20130
1.42-01.58
No comments:
Post a Comment