2 hari sebelum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, siang ini terasa lebih berharga dengan santapan pembuka antara pembicaraan dan diskusi pararel atasan dan bawahan. Pembicaraan diawali dengan penyamaan persepsi dan konsep pemikiran tentang tujuan yang akan dicapai dalam cakupan yang sedang dikerjakan. Seorang atasan yang terkesan dingin dalam asumsi sehari-hari ternyata menyimpan sebuah pemikiran yang belum berujung karena masih perlu ditopang oleh pemikiran-pemikiran segar, sebuah konsep yang mampu dieksekusi dengan baik dan mempunyai patokan yang terarah dan terukur.
Intinya adalah out of the box, sebuah pemikiran yang tak lagi mengindahkan segi-segi technical ataupun kajian. Ya dengan tegas beliau mengatakan demikian, dan sasarannya adalah nilai-nilai yang didapat, akan dirasakan dan mendorong costumer untuk tergerak memilih produk kami tanpa bermain-main dalam penyesuain budget. Tapi ini bukan yang menjadi bahasan pada tulisan ini, ada segelintir pesan moral yang ingin disampaikan oleh beliau, saya anggap sebuah investasi waktu dan pemikiran yang tidak bersentuhan dengan riba, karena tidak membuahkan keuntungan materiil secara langsung.
Analoginya adalah sebuah pohon, ya katakanlah itu pohon mangga. Sebuah pohon mangga yang berdiri dipinggir jalan, di halaman rumah, di perkebunan, bahkan di hutan sekalipun akan hanyalah sebuah pohon mangga yang daunnya akan bergerak jika tertiup angin.
Seseorang yang akan berjalan akan lewat begitu saja, atau bahkan tak menyadari ada sebuah pohon mangga disana. Berbeda dengan sebuah pohon mangga dengan buah yang lebat, siang pun akan terasa segar rasanya dengan membayangkan buah-buah segar yang bergelantungan di pohon berharap tertiup angin dan jatuh terbelah menjadi potongan-potongan yang siap untuk dilahap.
Pertanyaannya adalah, apakah buah mangga itu muncul begitu saja ? Tentu tidak. Jauh sebelum buah itu tumbuh dari penyemaian benang sari dan kepala putik, kehidupan itu diawali dengan keluarnya akar untuk tunas-tunas generasi baru, kemudian akar terus bercabang, memunculkan batang di atas permukaan tanah, kemudian kembali bercabang membentuk ranting-ranting.
Begitu rumit dalam setiap batang yang bercabang, belum lagi ranting yang terus tumbuh tak beraturan, namun pernahkah terpikirkan tentang ini? tentang ranting yang harus menjulur ke kiri atau ke kanan? tentang daun yang harus tumbuh diatas ranting, hingga buah yang muncul pada sebuah pohon? tidakkaah itu sebuah proses? analogi sebuah proses, hingga tak ada yang menyadari kecuali pohon itu sendiri. Pentingkah? ya bagi si pohon, ya bagi si penanam pohon. Lingkungan hanya akan menyadari ketika pohon berbuah.
Ini akan memberikan pemahaman tentang seberapa penting persepsi pada suatu proses, tak terlalu penting, karena persepsi hanya akan mengahambat dalam berekspresi, seperti yang sering kita alami, atau bahkan yang saya alami jika boleh jujur.
Ini akan memberikan pemahaman tentang seberapa penting persepsi pada suatu proses, tak terlalu penting, karena persepsi hanya akan mengahambat dalam berekspresi, seperti yang sering kita alami, atau bahkan yang saya alami jika boleh jujur.


