Wednesday, 23 October 2013

Analogi Sebuah Proses

2 hari sebelum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, siang ini terasa lebih berharga dengan santapan pembuka antara pembicaraan dan diskusi pararel atasan dan bawahan. Pembicaraan diawali dengan penyamaan persepsi dan konsep pemikiran tentang tujuan yang akan dicapai dalam cakupan yang sedang dikerjakan. Seorang atasan yang terkesan dingin dalam asumsi sehari-hari ternyata menyimpan sebuah pemikiran yang belum berujung karena masih perlu ditopang oleh pemikiran-pemikiran segar, sebuah konsep yang mampu dieksekusi dengan baik dan mempunyai patokan yang terarah dan terukur.

Intinya adalah out of the box, sebuah pemikiran yang tak lagi mengindahkan segi-segi technical ataupun kajian. Ya dengan tegas beliau mengatakan demikian, dan sasarannya adalah nilai-nilai yang didapat, akan dirasakan dan mendorong costumer untuk tergerak memilih produk kami tanpa bermain-main dalam penyesuain budget. Tapi ini bukan yang menjadi bahasan pada tulisan ini, ada segelintir pesan moral yang ingin disampaikan oleh beliau, saya anggap sebuah investasi waktu dan pemikiran yang tidak bersentuhan dengan riba, karena tidak membuahkan keuntungan materiil secara langsung.

Analoginya adalah sebuah pohon, ya katakanlah itu pohon mangga. Sebuah pohon mangga yang berdiri dipinggir jalan, di halaman rumah, di perkebunan, bahkan di hutan sekalipun akan hanyalah sebuah pohon mangga yang daunnya akan bergerak jika tertiup angin. 

Seseorang yang akan berjalan akan lewat begitu saja, atau bahkan tak menyadari ada sebuah pohon mangga disana. Berbeda dengan sebuah pohon mangga dengan buah yang lebat, siang pun akan terasa segar rasanya dengan membayangkan buah-buah segar yang bergelantungan di pohon berharap tertiup angin dan jatuh terbelah menjadi potongan-potongan yang siap untuk dilahap.  

Pertanyaannya adalah, apakah buah mangga itu muncul begitu saja ? Tentu tidak. Jauh sebelum buah itu tumbuh dari penyemaian benang sari dan kepala putik, kehidupan itu diawali dengan keluarnya akar untuk tunas-tunas generasi baru, kemudian akar terus bercabang, memunculkan batang di atas permukaan tanah, kemudian kembali bercabang membentuk ranting-ranting. 

Begitu rumit dalam setiap batang yang bercabang, belum lagi ranting yang terus tumbuh tak beraturan, namun pernahkah terpikirkan tentang ini? tentang ranting yang harus menjulur ke kiri atau ke kanan? tentang daun yang harus tumbuh diatas ranting, hingga buah yang muncul pada sebuah pohon? tidakkaah itu sebuah proses? analogi sebuah proses, hingga tak ada yang menyadari kecuali pohon itu sendiri. Pentingkah? ya bagi si pohon, ya bagi si penanam pohon. Lingkungan hanya akan menyadari ketika pohon berbuah.

Ini akan memberikan pemahaman tentang seberapa penting persepsi pada suatu proses, tak terlalu penting, karena persepsi hanya akan mengahambat dalam berekspresi, seperti yang sering kita alami, atau bahkan yang saya alami jika boleh jujur.

Random, Mari Coba Berekspresi Kembali


23.03, Rabu 23 Oktober 2013

Ada banyak sekali kata demi kata yang melintas di otak ini. Sangat kontras dengan apa yang sedang aku perbuat saat ini, statika tak tentu membuat setengah otak ku meledak, membuncahkan amarah akan keterbatasan otak untuk mengingat apa yang telah aku pahami dua tahun silam. Sialnya buku kitab saat ini tidak seajaib catatan hasil goresan penaku terdahulu. Ssangat simple terlampau simple hingga tak bisa ku pahami, banyak sekali coretan pensil penuh frustasi yang tercurahkan dalam symbol tanda Tanya besar.

Tak tahu apalagi yang harus ku perbuat hingga aku lampiaskan saja dalam kata demi kata yang saat ini masih mengalir deras dalam otak. Seakan memahami takdir atau potensi dalam mengolah kata daripada menyusun pembebanan atau, lendutan, putaran sudut dan semacamnya. Slideshow yang silih berganti setiap meniti berisi materi perjalanan alam yang belum lama ini aku jalanni, seakan mengingatkanku kembali ke alam lalu, tanpa paksaan, tanpa usaha sekeras apa aku mengingat, tak seperti mengingat pelajaran mekrek yang dulu sangat aku gemari, tak pernah aku mendapatkan B, always A. Memang agak susah jika hanya terpaku dalam satu memori yang harus itu yang aku cari, atau tentang catatan ajaibku mengenai mekanika rekayasa yang dulu aku banggakan.

Memori itu satu per satu kembali muncul dalam ingatan, tentang petualngan, tentang keheningan, ataupun tentang memejamkan mata di tengah riuhnya suara jangkrik dalam hutan, atau nyanyian burung yang silih bersahut. Ataupun tentang apa yang orang-orang banyak menyebutnya cinta. Ternyata dari sturktur, putaran sudut, ataupun lendutan, bisa sampai ke cinta. Ya mungkin karena terlintas dalam pikiran untuk meminjam catatan adik kelas yang mungkin saja memiliki catatan yang sama karena satu perguruan oleh dosen yang sama.

Entah setan mana yang mengingatkan aku tentang dia, tapi otak ini belum bisa terhenti, ataupun jemari yang kian lincah diatas tombol-tombol alphabet yang berjejer terpaku menanti untuk disentuh bergantian. Kertas yang berserakan ataupun celacah abu rokok yang saling berlomba meramaikan Susana kamar ini, sesekali asap rokok menghampiri layar monitor ataupun dari mulutku yang seesekali mengekuarkan kepulan asap rokok. Dan lagu-lagu yang tak berderet kadang sendu mendayu, kadang mengalun agak keras, ataupun tak kukenali sama sekali. Aaah, mungkin tak ku hiraukan gaya penulisanku saat ini, mungkin aku berbicara sebagai orang pertama yang terlibat dalam tulisan ini.


Yang pasti telah terbesit dalam cita-citaku untuk menjadi seorang penulis buku, entah itu fiksi ataupun ulasan tentang nilai-nilai hidup. Agak berat memang, melihat perjalanan hidupku sendiri yang belum konsisten, kadang baik, kadang benar, kadang ngaco, kadang gila, tapi selama ini aku berhasil untuk menutup rapat dalam sosok yang acuh tak acuh seolah tak peduli, padahal sangat berarti, seolah cuek padalah hati mewek. Tak tahu mengapa, sosok ini tak berdaya untuk berkespresi secara total, baik itu dalam media ataupun dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Sekali lagi, entah dari mana aku memulainya, mungkin susunan memori ini layak untuk menjadi sebiah cerita yang bisa diambil nilai, manfaat, ataupun kegilaan yang kurang baik untuk ditiru, tulisan ini tak bertujuan, hanya pelampiasan amarahku betapa susahnya menampilkan memori dalam otak kiri ini.