23.03, Rabu 23 Oktober 2013
Ada banyak sekali kata demi kata
yang melintas di otak ini. Sangat kontras dengan apa yang sedang aku perbuat
saat ini, statika tak tentu membuat setengah otak ku meledak, membuncahkan
amarah akan keterbatasan otak untuk mengingat apa yang telah aku pahami dua
tahun silam. Sialnya buku kitab saat ini tidak seajaib catatan hasil goresan
penaku terdahulu. Ssangat simple terlampau simple hingga tak bisa ku pahami,
banyak sekali coretan pensil penuh frustasi yang tercurahkan dalam symbol tanda
Tanya besar.
Tak tahu apalagi yang harus ku
perbuat hingga aku lampiaskan saja dalam kata demi kata yang saat ini masih
mengalir deras dalam otak. Seakan memahami takdir atau potensi dalam mengolah
kata daripada menyusun pembebanan atau, lendutan, putaran sudut dan semacamnya.
Slideshow yang silih berganti setiap meniti berisi materi perjalanan alam yang
belum lama ini aku jalanni, seakan mengingatkanku kembali ke alam lalu, tanpa
paksaan, tanpa usaha sekeras apa aku mengingat, tak seperti mengingat pelajaran
mekrek yang dulu sangat aku gemari, tak pernah aku mendapatkan B, always A.
Memang agak susah jika hanya terpaku dalam satu memori yang harus itu yang aku
cari, atau tentang catatan ajaibku mengenai mekanika rekayasa yang dulu aku banggakan.
Memori itu satu per satu kembali
muncul dalam ingatan, tentang petualngan, tentang keheningan, ataupun tentang
memejamkan mata di tengah riuhnya suara jangkrik dalam hutan, atau nyanyian
burung yang silih bersahut. Ataupun tentang apa yang orang-orang banyak
menyebutnya cinta. Ternyata dari sturktur, putaran sudut, ataupun lendutan,
bisa sampai ke cinta. Ya mungkin karena terlintas dalam pikiran untuk meminjam
catatan adik kelas yang mungkin saja memiliki catatan yang sama karena satu
perguruan oleh dosen yang sama.
Entah setan mana yang
mengingatkan aku tentang dia, tapi otak ini belum bisa terhenti, ataupun jemari
yang kian lincah diatas tombol-tombol alphabet yang berjejer terpaku menanti
untuk disentuh bergantian. Kertas yang berserakan ataupun celacah abu rokok
yang saling berlomba meramaikan Susana kamar ini, sesekali asap rokok
menghampiri layar monitor ataupun dari mulutku yang seesekali mengekuarkan
kepulan asap rokok. Dan lagu-lagu yang tak berderet kadang sendu mendayu,
kadang mengalun agak keras, ataupun tak kukenali sama sekali. Aaah, mungkin tak
ku hiraukan gaya penulisanku saat ini, mungkin aku berbicara sebagai orang
pertama yang terlibat dalam tulisan ini.
Yang pasti telah terbesit dalam
cita-citaku untuk menjadi seorang penulis buku, entah itu fiksi ataupun ulasan
tentang nilai-nilai hidup. Agak berat memang, melihat perjalanan hidupku
sendiri yang belum konsisten, kadang baik, kadang benar, kadang ngaco, kadang
gila, tapi selama ini aku berhasil untuk menutup rapat dalam sosok yang acuh
tak acuh seolah tak peduli, padahal sangat berarti, seolah cuek padalah hati
mewek. Tak tahu mengapa, sosok ini tak berdaya untuk berkespresi secara total,
baik itu dalam media ataupun dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.
Sekali lagi, entah dari mana aku
memulainya, mungkin susunan memori ini layak untuk menjadi sebiah cerita yang
bisa diambil nilai, manfaat, ataupun kegilaan yang kurang baik untuk ditiru,
tulisan ini tak bertujuan, hanya pelampiasan amarahku betapa susahnya
menampilkan memori dalam otak kiri ini.

No comments:
Post a Comment