Sebuah pertemuan yang tidak biasa menyisakan beberapa nilai yang cukup mendalam diantara alasan dan orientasi hidup.
Bahwa melakukan suatu hal oleh karena sebuah alasan atau tujuan, berbedakah ? mungkin sama, atau mungkin juga tidak. Memang hanya berujung pada opini atas pembenaran masing-masing kepala. Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang apa yang akan kamu lakukan setalah kamu melakukanya? untuk apa ? Mengapa haru ada untuk? Bukankah itu kepentingan ? Katakanlah untuk hal yang baik, bukankah itu juga sebuah kepentingan ? baik adalah kata sifat yang mengemas sebuah alasan, kepentingan atau tujuan.
Ada jawaban sederhana, mungkin cukup karena saya mau, dan saya malas beralasan, malas menjelaskan. Fenomena sederhana yang cukup dimengerti bagi yang akan melakukan, biarlah orang yang sibuk mencari alasan untuk sebuah perlakukan. Mungkin saja menimbulkan sebuah persepsi, tapi kadang kita cukup malas dengan persepsi, penyamaan persepsi, bukankah telah banyak pakar, penyelenggara negara, perwakilan yang katanya mewakili rakyat berbeda persepsi dengen benteng alasan yang mengakar dari urusan substansial maupun sepele.
Memang sebuah pembenaran atas tindakan harus berdasar, apapun dasarnya itu. Dasar yang telah diakui atau memang telah ada sebelum kita ada sampai kita tiada. Maka berjalanlah dengan pasti jika belum menemukan alasan maka teruslah berjalan hingga muncul jawaban-jawaban, alasan-alasan yang akan mengikuti didalam prosesnya. Hipotesa yang terlalu mendalam mungkin akan memberatkan pertimbangan pada keengganan untuk melakukan apa yang akan atau ingin dilakukan
Dan orientasi hidup tentunya berujung pada ketiadaan, kesiapan untuk sebuah ketiadaan, dan lakukan bila mau, harus berdasar, alasan bisa mengiringi. Kadang sebuah alasan lah yang memang dicari atas tindakan atau sebuah keputusan yang akan dijalankan.