Sunday, 8 February 2015

Malas Beralasan

Sebuah pertemuan yang tidak biasa menyisakan beberapa nilai yang cukup mendalam diantara alasan dan orientasi hidup. 

Bahwa melakukan suatu hal oleh karena sebuah alasan atau tujuan, berbedakah ? mungkin sama, atau mungkin juga tidak. Memang hanya berujung pada opini atas pembenaran masing-masing kepala. Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang apa yang akan kamu lakukan setalah kamu melakukanya? untuk apa ? Mengapa haru ada untuk? Bukankah itu kepentingan ? Katakanlah untuk hal yang baik, bukankah itu juga sebuah kepentingan ? baik adalah kata sifat yang mengemas sebuah alasan, kepentingan atau tujuan. 

Ada jawaban sederhana, mungkin cukup karena saya mau, dan saya malas beralasan, malas menjelaskan. Fenomena sederhana yang cukup dimengerti bagi yang akan melakukan, biarlah orang yang sibuk mencari alasan untuk sebuah perlakukan. Mungkin saja menimbulkan sebuah persepsi, tapi kadang kita cukup malas dengan persepsi, penyamaan persepsi, bukankah telah banyak pakar, penyelenggara  negara, perwakilan yang katanya mewakili rakyat berbeda persepsi dengen benteng alasan yang mengakar dari urusan substansial maupun sepele. 

Memang sebuah pembenaran atas tindakan harus berdasar, apapun dasarnya itu. Dasar yang telah diakui atau memang telah ada sebelum kita ada sampai kita tiada. Maka berjalanlah dengan pasti jika belum menemukan alasan maka teruslah berjalan hingga muncul jawaban-jawaban, alasan-alasan yang akan mengikuti didalam prosesnya. Hipotesa yang terlalu mendalam mungkin akan memberatkan pertimbangan pada keengganan untuk melakukan apa yang akan atau ingin dilakukan 

Dan orientasi hidup tentunya berujung pada ketiadaan, kesiapan untuk sebuah ketiadaan, dan lakukan bila mau, harus berdasar, alasan bisa mengiringi. Kadang sebuah alasan lah yang memang dicari atas tindakan atau sebuah keputusan yang akan dijalankan. 


Friday, 6 February 2015

Padahal tidak

Padahal tidak selamanya berakhir dan bermula, ada sebuah zat yang tetap ada dan Abadi. 

Semuanya berlalu begitu saja, katakanlah ide, cita-cita dan ambisi yang mengepul kemudian menghilang, menjelang waktu berakhir. Waktu yang tiada kosakata terdefinisi dalam segala hal yang terburu dan tertelan begitu saja seperti kejadian setiap pagi padahal baru saja kita terbuka pada pagi yang malas, kemudian terpulas dan terbangun kembali dalam keadaan terkaget-kaget karena persepi lima menit padahal tidak. Padahal tidak, waktu tidak berjalan diatas persepsi, dia hanya ada dan dirasakan. Katakanlah berjalan, berlari , atau melangkah, waktu tetaplah maju, atau tentang beberapa ungkapan tentang waktu yang membeku padahal tidak. 

Sebut saja tentang malam ini, diantara kegusaran yang melanda pikiran, tentang awan kelabu yang beberepa saat yang lalu terlihat ragu menerpa bulan. Diantara sela dan waktu yang telah lama kutinggalkan tulisan ini, dengan sedikit kaku dan terburu semuanya melanda begitu saja, hanya ingin kutulis begitu saja. Padahal tidak, padahal ingin ku rencanakan semuanya, padahal ingin kuwujudkan semuanya dengan tepat, padahal tidak. Dan setiap penyangkalan konyol yang kulayangkan atas diri sendiri, semuanya hanya berakhir begitu saja. tentang sebuah kesuksesan yang bergantung pada persepsi di sekelilingmu, padahal tidak. 

Atau tentang kesombongan yang dirasakan, tentang merasa menjadi manusia luar biasa dengan segala apa yang dimiliki, dirasa, dilihat, padahal tidak. Lalu mengapa masih ada penyangkalan, padahal tidak. Padahal saya bisa, anda bisa, mereka bisa, masalah iya dan tidak memang perlu dilakukan metoda kajian yang cukup mendalam untuk pengambilan keputusan iya dan tidak berdasarkan parameter yang kuantitatif. 

Padahal tidak, hanya kita yang bermula dan berakhir, lalu apakah ini? ini adalah keadaan, ruang, dimensi, waktu, napas, hidup, diantara awal dan akhir, silahkan isi.