Friday, 6 February 2015

Padahal tidak

Padahal tidak selamanya berakhir dan bermula, ada sebuah zat yang tetap ada dan Abadi. 

Semuanya berlalu begitu saja, katakanlah ide, cita-cita dan ambisi yang mengepul kemudian menghilang, menjelang waktu berakhir. Waktu yang tiada kosakata terdefinisi dalam segala hal yang terburu dan tertelan begitu saja seperti kejadian setiap pagi padahal baru saja kita terbuka pada pagi yang malas, kemudian terpulas dan terbangun kembali dalam keadaan terkaget-kaget karena persepi lima menit padahal tidak. Padahal tidak, waktu tidak berjalan diatas persepsi, dia hanya ada dan dirasakan. Katakanlah berjalan, berlari , atau melangkah, waktu tetaplah maju, atau tentang beberapa ungkapan tentang waktu yang membeku padahal tidak. 

Sebut saja tentang malam ini, diantara kegusaran yang melanda pikiran, tentang awan kelabu yang beberepa saat yang lalu terlihat ragu menerpa bulan. Diantara sela dan waktu yang telah lama kutinggalkan tulisan ini, dengan sedikit kaku dan terburu semuanya melanda begitu saja, hanya ingin kutulis begitu saja. Padahal tidak, padahal ingin ku rencanakan semuanya, padahal ingin kuwujudkan semuanya dengan tepat, padahal tidak. Dan setiap penyangkalan konyol yang kulayangkan atas diri sendiri, semuanya hanya berakhir begitu saja. tentang sebuah kesuksesan yang bergantung pada persepsi di sekelilingmu, padahal tidak. 

Atau tentang kesombongan yang dirasakan, tentang merasa menjadi manusia luar biasa dengan segala apa yang dimiliki, dirasa, dilihat, padahal tidak. Lalu mengapa masih ada penyangkalan, padahal tidak. Padahal saya bisa, anda bisa, mereka bisa, masalah iya dan tidak memang perlu dilakukan metoda kajian yang cukup mendalam untuk pengambilan keputusan iya dan tidak berdasarkan parameter yang kuantitatif. 

Padahal tidak, hanya kita yang bermula dan berakhir, lalu apakah ini? ini adalah keadaan, ruang, dimensi, waktu, napas, hidup, diantara awal dan akhir, silahkan isi. 

No comments:

Post a Comment