Monday, 24 June 2013

Diantara Gede dan Pangrango


Diantara Rintihan embun yang menetes, 
Mentari menari termalu-malu melewatkan senyap terbungkus malam yang deras
Ketika dilemma terbalut ragu
Antara Gede dan Pangrango

Seberkas waktu beranjak dari Kandang Badak
Tertanam rambu ke tiga penjuru,
Gede, Pangrango, atau turun kembali sebagai PECUNDANG sejati

Derap langkah berjejak di lembabnya gunung Gede
Membawa perjalanan untuk bertemu di tugumu
Diantara tebing-tebingmu,
Kami beranjak bertopang pada temali penyambung harapan,

Dalam langkah yang mulai gontai
Dalam Hembus napas yang mulai terhambat,
Kabut tipis pun turun dalam gemulainya angin lembah 
Kawah Raden yang berujung di palung Bumi terdalam
Menggoreskan makna yang kontras dalam tebing-tebing puncak Gunung Gede

Kawan, hari ini adalah sejarah kehidupan
Yang berawal dari tekad

Diantara Gede dan pangrango
Hari ini kau pamerkan pesonamu,Gunung gede
Seakan berpesan
Tuk tambatkan tekadmu Gunung pangrango

11.30, Puncak Gunung. Gede
Firmansyah Permadi, 27 Desember 2011

PUNCAK AMARAH


Ketika darah bergejolak dalam jiwa 
Ketika amarah terbakar dalam otak
Ketika kekesalan datang silih berganti
Ketika jiwa ini mulai tak terkendali
Ketika pikiran ini kalut dengan segela kesialan malam ini
Ketika jari tangan ini mulai lelah untuk menekan tombol-tombol yang berderet di depan layar

Ketika nafsu memenuhi mulut kawah yang segera meledak
Mengeluarkan debu yang penuh dosa
Menyirami dengan asam kebencian
Mematika rasa

Puncak amarah ini harus segera ku lalui
Menuruni lembah kedamaian
Dimana kutemukan itu ?

Tasikmalaya, 25-2-2010
Firmansyah Permadi

Tuesday, 18 June 2013

Konsep Terbalik, Hidup Untuk Mati

Ada berbagai macam pemahaman bahwa kita hidup, menjalin kehidupan dengan penghidupan. Tak ada salahnya kita coba buka kembali pelajaran sewaktu kita masih dibangku sekolahan, pelajaran yang memberikan hakikat biologis bahwa kita hidup.

Bernapas, bergerak, nutrisi, tumbuh, reproduksi, regulasi, ekskresi, dan peka terhadap rangsangan, mari kita tinjau kembali apakah ciri-ciri tersebut masih ada dalam tubuh ini? atau ada dalam salah satu dari ciri-ciri biologis tersebut yang sudah tidak bisa lagi kita terbuat ? masih hidupkah kita ? atau setengah mati? atau setengah hidup? , tapi titik permasalahannya bukan apakah kita masih hidup atau tidak, tapi bagaimana kita akan mati. 

Kematian merupakan rahasia dari Tuhan yang tak satu manusia pun tahu, apabila kita tarik garis dari titik kelahiran hingga kematian, maka bagaimanapun seseorang hidup, akan tetap berujung pada simpul kematian, kematian di kehidupan fana, hingga dihidupkan kembali untuk menjalani keadilan yang sesungguhnya dihadapan Sang-Pencipta. 


Telah banyak teori kemanusiaan tentang konsep hidup, tapi dimanakah konsep itu berujung ? seringkali konsep hidup berujung pada kesuksesan yang abstrak. Sukses yang perspektif menurut isi kepala masing-masing. Setidaknya sampai saat ini belum ada satuan, atau besaran yang resmi untuk pengukuran kesuksesan seseorang. 

Manusia dengan kecerdasannya akan mengupayakan setiap usahannya dalam menjalani kehidupan, baik yang terkonsep, maupun berjalan seperti apa adanya. Namun terbesitkah dalam pemikiran untuk memasukan kematian ke dalam salah satu konsep dalam menjalani kehidupan ? "Buat apa? ini hanya akan mematahkan semangat dalam mengusahakan". Ya, mungkin seperti itulah pemikiran yang penuh dengan pemahaman akan logika yang sangat kuat, terlalu kuat bahkan mengalahkan segala macam regulasi terkait masalah keyakinan.

Ada semacam pemahaman yang tak membutuhkan logika untuk meyakininya, itulah Iman, dengan butir-butir yang tertuang dalam rukun Iman, kita wajib meyakininnya, mengesampingkan logika dan menjalani dengan ikhlas, termasuk kematian. Kematian termasuk dalam salah satu bagian dari Iman terhadap Qoda dan Qodar, takdir yang telah dituliskan jauh sebelum kehidupan itu dimulai. Bahkan segala hal yang menyangkut dari manusia itu sendiri, termasuk jodoh dan rezeki. 


Oleh karena itu pada episode ini, mari kita sedikitnya memasukan kematian pada daftar kesuksesan yang akan kita capai, melalui proses kehidupan ini. Inilah konsep terbalik dimana kita tentukan target akhir yang akan kita capai dengan segala perencanaan dan implementasi kita di kehidupan ini. Ketahuialah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini tak lebihnya dari setetes air di lautan samudra jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat nanti. Ibarat pembalap yang akan terus melaju sebelum garis finish terlewati, maka selama itu kita melaju, berpikir, bertindak, untuk mencapai garis tersebut. Dan siapkah kita mengahadapinnya? Kapan kita harus mulai mempersiapkan? garis finish masih menjadi misteri, bahkan detik ini juga bisa saja langsung terlihat, jadi apa yang harus kita tunggu? 



Wednesday, 5 June 2013

Tarian Dalam Siluet

Siluet dalam bahasa fotografi adalah suatu efek yang dihasilkan karena adanya perbedaan signifikan antara pantulan cahaya objek utama di bagian depan gambar dengan latar belakangnya. Dalam sebuah siluet, para seniman fotografi menerjemahkan objeknya dalam alur drama dan emosi yang begitu mengesankan.


Cara terbaik untuk mendapatkan sebuah siluet adalah dengan memanfaatkan cahaya natural, ya cahaya yang bahkan tak ada satu makhluk di alam semesta ini  mampu untuk menciptakannya, cahaya matahari. Waktu terbaik untuk mendapatkan siluet adalah ketika matahari bereada pada permukaan terendahnya, yaitu ketika matahari terbit atau terbenam. 

Dalam sebuah siluet, objek membisu dalam rangkaian imajinasi yang terangkai antara latar dan garis-garis yang membentuk setiap lekuk objeknya. Mari kita sebut saja siluet sebagai sudut pandang orang ke tiga, dia. Dia berada diantara pertanyaan dan pernyataan. Mengundang pertanyaan bagi setiap orang yang melihatnya, dan menimbulkan pernyataan atas jawaban imajinasinya. 

Namun kita tidak membicarakan siluet dalam harfiah fotografi, lebih dari itu, sebuah tarian dalam siluet. Emosi, perasaan, atau apapun istilah orang menyebutnya yang tertuang dalam bingkai-bingkai kenyataan. Tentu kita setuju bahwa tak selamanya seseorang berada dalam terang dan tak selamanya berada dalam gelap. Tapi apapun itu dalam setiap fase terang dan gelap kita masih melakukan hal yang sama, bernapas. Tarian udara yang masuk dan keluar menembus paru-paru kita mentasbihkan sepenuhnya bahwa kita masih berada dalam alam yang sama, napas yang sama, dalam hidup. 

Fase terang dan gelap tecermin pada sebuah siluet antara objek dan latarnya, siluet dalam gelapnya menampakkan ketegasan akan adanya suatu bentuk pada latar yg melebihi dari bias cahaya. Siluet bisa saja menjadi sebuah misteri, teka-teki, dan kembali pada hakikatnya, sebuah pertanyaan. Objek pada siluet merupakan pencerminan dari sosok diri kita, dan masihkah ada pada tegasnya gelap? atau menunggu hingga matahari kembali bergerak, memudarkan sedikit demi sedikit kegelapan dalam siluet, hingga nyatalah objeknya? atau kembali terbenam dalam malam menelan objek dan latarnya dalam kegelapan yang tak berbentuk?


Misteri ini akan terus berlanjut selama belum ada pernyataan yang mengimbangi semua pertanyan-pertanyaan yang muncul dalam setiap lekuk kehidupan. Maka menarilah ketika dalam siluet, karena siluet pada hakikatnya adalah proses antara objek dan latar yang menghasilkan output ketika matahari telah bereada pada momentum untuk menampakan objeknya secara nyata, jelas dan jujur. 

Siluet akan menampakan kembali objeknya ketika matahari terbit atau terbenam, sehingga menyajikan dua pilihan tentang berada dimanakah siluet yang kita bentuk? dalam terbit atau pada terbenam.  Banyak teori mengemukakan hidup ini adalah pilihan, tapi memilih bukan berarti ada hak dalam setiap penguasaan segi kehidupan, ada hal-hal yang mutlak kita hanya bisa menerimannya, mengimaninya, ya hal bahwa kita adalah ciptaan-Nya, bergerak, berusaha, dan yakin pada-Nya. 

Maka teruslah menari, teruslah berusaha, bergerak, mengejar matahari yang menampakan objeknya yang nyata, jelas dan jujur, dan  jika terlalu sore maka tunggulah esok pagi, matahari akan kembali bersinar. 


Dan inilah suatu episode kehidupan dimana momentum yang tepat akan menampkan objeknya secara jelas, nyata, dan jujur. Sebuah kesan emosianal terhadap pengagum siluet, dan pesan yang tersampaikan didalamnya, menari dalam imajinasi, memendarkan setiap lekuk objeknya. Seperti pagi hari di sebuah puncak yang megah, sementara awan-awan mulai berkawan menari gemulai. 







Tuesday, 4 June 2013

Sebuah Awal

Mungkin sudah terlalu naif lagi untuk membicarakan tentang sebuah kehidupan, semuanya begitu semu, bias dan tak terdefinisikan  hanya beberapa penyangkalan teoritis yang seolah-olah dibuat realistis dalam kehidupan pragmatis. 

Ada suatu penyangkalan yang memberikan sebuah titik terang akan adanya dinamisme kehidupan yang merujuk kedalam sebuah idealisme manusia, dengan isi kepala yang sangat beragam dan dalam pola tingkah laku yang berbeda. Hal ini bermuara pada sebuah usaha yang dilakukan untuk meyakinkan, atau keyakinan yang menimbulkan suatu usaha, ya, seperti sebuah domino yang saling memberikan efek satu sama lainnya. 


Usaha dan keyakinan dua hal itu akan saling berpengaruh dan memempengaruhi aspek-aspek lainnya. Ini akan terus berjalan selayaknya waktu yang tak lelah untuk terus memutarkan rodanya. Dan seberapa besar sebuah pengaruh mengubah pola kehidupan kita? realtif... 

Walaupun seorang fisikawan macam Albert Einstein telah mengemukakan pendapatnya dengan teori relativitas yang seolah bersebrangan dengan teori gerakan menurut Bapak Issac Newton, kedua teori ini belumlah bisa memecahkan akan permasalahan ini. Seberapa besar sebuah pengaruh terhadap pola kehidupan seorang manusia belumlah bisa diukur dengan satuan ataupun besaran tertentu, bahkan dengan nilai konstanta tertentu. 

Konsistensi dari suatu pemikiran dan hasil akhir berupa sebuah tindakan belum bisa menjamin jika itu adalah murni dari sebuah pemikiran, masih banyak kemungkinan yang belum terungkapkan. tapi agaknya usaha dan keyakinan untuk saat ini merupakan suatu pandangan yang logis dalam menumbuhkan sebuah tekad, niat, itikad, pemikiran ataupun hal-hal lain yang bermakna memulai, atau melanjutkan, atau membaharui, atau memperbaiki. Ya memang banyak sekali kata untuk mewakili itu semua, sudut pandang sebagai orang pertama merupakan sebuah pengaruh yang cukup besar dalam penentuan kata-kata ini. 

Dan inilah sebuah tekad, untuk mendokumentasikan tulisan dari pemikiran rumit yang disederhanakan melalui sebuah alur dan tempo. Karena pada hakikatnya manusia yang paling baik adalah yang dapat meberikan sebanyak-banyak bagi orang lain, maka semoga tulisan ini dapat memberikan setitik manfaat dalam melangkahkan kaki untuk meninggalkan jejak-jejak kehidupan ini. Ya, kembali ke style apa yang kita pilih? berlari, berjalan, melangkah, ataupun merangkak. 



Inilah sebuah awal, sebuah langkah kecil yang semoga meninggalkan jejak-jejak yang bermanfaat untuk ditelusuri, seperti gunung yang menjulang, ataupun puncak yang megah, atau lembah edelweiss yang menebarkan aroma kejujuran, kita melangkah dan kembali mengikuti jejak-jejak yang kita buat.