Wednesday, 5 June 2013

Tarian Dalam Siluet

Siluet dalam bahasa fotografi adalah suatu efek yang dihasilkan karena adanya perbedaan signifikan antara pantulan cahaya objek utama di bagian depan gambar dengan latar belakangnya. Dalam sebuah siluet, para seniman fotografi menerjemahkan objeknya dalam alur drama dan emosi yang begitu mengesankan.


Cara terbaik untuk mendapatkan sebuah siluet adalah dengan memanfaatkan cahaya natural, ya cahaya yang bahkan tak ada satu makhluk di alam semesta ini  mampu untuk menciptakannya, cahaya matahari. Waktu terbaik untuk mendapatkan siluet adalah ketika matahari bereada pada permukaan terendahnya, yaitu ketika matahari terbit atau terbenam. 

Dalam sebuah siluet, objek membisu dalam rangkaian imajinasi yang terangkai antara latar dan garis-garis yang membentuk setiap lekuk objeknya. Mari kita sebut saja siluet sebagai sudut pandang orang ke tiga, dia. Dia berada diantara pertanyaan dan pernyataan. Mengundang pertanyaan bagi setiap orang yang melihatnya, dan menimbulkan pernyataan atas jawaban imajinasinya. 

Namun kita tidak membicarakan siluet dalam harfiah fotografi, lebih dari itu, sebuah tarian dalam siluet. Emosi, perasaan, atau apapun istilah orang menyebutnya yang tertuang dalam bingkai-bingkai kenyataan. Tentu kita setuju bahwa tak selamanya seseorang berada dalam terang dan tak selamanya berada dalam gelap. Tapi apapun itu dalam setiap fase terang dan gelap kita masih melakukan hal yang sama, bernapas. Tarian udara yang masuk dan keluar menembus paru-paru kita mentasbihkan sepenuhnya bahwa kita masih berada dalam alam yang sama, napas yang sama, dalam hidup. 

Fase terang dan gelap tecermin pada sebuah siluet antara objek dan latarnya, siluet dalam gelapnya menampakkan ketegasan akan adanya suatu bentuk pada latar yg melebihi dari bias cahaya. Siluet bisa saja menjadi sebuah misteri, teka-teki, dan kembali pada hakikatnya, sebuah pertanyaan. Objek pada siluet merupakan pencerminan dari sosok diri kita, dan masihkah ada pada tegasnya gelap? atau menunggu hingga matahari kembali bergerak, memudarkan sedikit demi sedikit kegelapan dalam siluet, hingga nyatalah objeknya? atau kembali terbenam dalam malam menelan objek dan latarnya dalam kegelapan yang tak berbentuk?


Misteri ini akan terus berlanjut selama belum ada pernyataan yang mengimbangi semua pertanyan-pertanyaan yang muncul dalam setiap lekuk kehidupan. Maka menarilah ketika dalam siluet, karena siluet pada hakikatnya adalah proses antara objek dan latar yang menghasilkan output ketika matahari telah bereada pada momentum untuk menampakan objeknya secara nyata, jelas dan jujur. 

Siluet akan menampakan kembali objeknya ketika matahari terbit atau terbenam, sehingga menyajikan dua pilihan tentang berada dimanakah siluet yang kita bentuk? dalam terbit atau pada terbenam.  Banyak teori mengemukakan hidup ini adalah pilihan, tapi memilih bukan berarti ada hak dalam setiap penguasaan segi kehidupan, ada hal-hal yang mutlak kita hanya bisa menerimannya, mengimaninya, ya hal bahwa kita adalah ciptaan-Nya, bergerak, berusaha, dan yakin pada-Nya. 

Maka teruslah menari, teruslah berusaha, bergerak, mengejar matahari yang menampakan objeknya yang nyata, jelas dan jujur, dan  jika terlalu sore maka tunggulah esok pagi, matahari akan kembali bersinar. 


Dan inilah suatu episode kehidupan dimana momentum yang tepat akan menampkan objeknya secara jelas, nyata, dan jujur. Sebuah kesan emosianal terhadap pengagum siluet, dan pesan yang tersampaikan didalamnya, menari dalam imajinasi, memendarkan setiap lekuk objeknya. Seperti pagi hari di sebuah puncak yang megah, sementara awan-awan mulai berkawan menari gemulai. 







No comments:

Post a Comment