Tuesday, 18 June 2013

Konsep Terbalik, Hidup Untuk Mati

Ada berbagai macam pemahaman bahwa kita hidup, menjalin kehidupan dengan penghidupan. Tak ada salahnya kita coba buka kembali pelajaran sewaktu kita masih dibangku sekolahan, pelajaran yang memberikan hakikat biologis bahwa kita hidup.

Bernapas, bergerak, nutrisi, tumbuh, reproduksi, regulasi, ekskresi, dan peka terhadap rangsangan, mari kita tinjau kembali apakah ciri-ciri tersebut masih ada dalam tubuh ini? atau ada dalam salah satu dari ciri-ciri biologis tersebut yang sudah tidak bisa lagi kita terbuat ? masih hidupkah kita ? atau setengah mati? atau setengah hidup? , tapi titik permasalahannya bukan apakah kita masih hidup atau tidak, tapi bagaimana kita akan mati. 

Kematian merupakan rahasia dari Tuhan yang tak satu manusia pun tahu, apabila kita tarik garis dari titik kelahiran hingga kematian, maka bagaimanapun seseorang hidup, akan tetap berujung pada simpul kematian, kematian di kehidupan fana, hingga dihidupkan kembali untuk menjalani keadilan yang sesungguhnya dihadapan Sang-Pencipta. 


Telah banyak teori kemanusiaan tentang konsep hidup, tapi dimanakah konsep itu berujung ? seringkali konsep hidup berujung pada kesuksesan yang abstrak. Sukses yang perspektif menurut isi kepala masing-masing. Setidaknya sampai saat ini belum ada satuan, atau besaran yang resmi untuk pengukuran kesuksesan seseorang. 

Manusia dengan kecerdasannya akan mengupayakan setiap usahannya dalam menjalani kehidupan, baik yang terkonsep, maupun berjalan seperti apa adanya. Namun terbesitkah dalam pemikiran untuk memasukan kematian ke dalam salah satu konsep dalam menjalani kehidupan ? "Buat apa? ini hanya akan mematahkan semangat dalam mengusahakan". Ya, mungkin seperti itulah pemikiran yang penuh dengan pemahaman akan logika yang sangat kuat, terlalu kuat bahkan mengalahkan segala macam regulasi terkait masalah keyakinan.

Ada semacam pemahaman yang tak membutuhkan logika untuk meyakininya, itulah Iman, dengan butir-butir yang tertuang dalam rukun Iman, kita wajib meyakininnya, mengesampingkan logika dan menjalani dengan ikhlas, termasuk kematian. Kematian termasuk dalam salah satu bagian dari Iman terhadap Qoda dan Qodar, takdir yang telah dituliskan jauh sebelum kehidupan itu dimulai. Bahkan segala hal yang menyangkut dari manusia itu sendiri, termasuk jodoh dan rezeki. 


Oleh karena itu pada episode ini, mari kita sedikitnya memasukan kematian pada daftar kesuksesan yang akan kita capai, melalui proses kehidupan ini. Inilah konsep terbalik dimana kita tentukan target akhir yang akan kita capai dengan segala perencanaan dan implementasi kita di kehidupan ini. Ketahuialah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini tak lebihnya dari setetes air di lautan samudra jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat nanti. Ibarat pembalap yang akan terus melaju sebelum garis finish terlewati, maka selama itu kita melaju, berpikir, bertindak, untuk mencapai garis tersebut. Dan siapkah kita mengahadapinnya? Kapan kita harus mulai mempersiapkan? garis finish masih menjadi misteri, bahkan detik ini juga bisa saja langsung terlihat, jadi apa yang harus kita tunggu? 



No comments:

Post a Comment