Sunday, 8 February 2015

Malas Beralasan

Sebuah pertemuan yang tidak biasa menyisakan beberapa nilai yang cukup mendalam diantara alasan dan orientasi hidup. 

Bahwa melakukan suatu hal oleh karena sebuah alasan atau tujuan, berbedakah ? mungkin sama, atau mungkin juga tidak. Memang hanya berujung pada opini atas pembenaran masing-masing kepala. Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik tentang apa yang akan kamu lakukan setalah kamu melakukanya? untuk apa ? Mengapa haru ada untuk? Bukankah itu kepentingan ? Katakanlah untuk hal yang baik, bukankah itu juga sebuah kepentingan ? baik adalah kata sifat yang mengemas sebuah alasan, kepentingan atau tujuan. 

Ada jawaban sederhana, mungkin cukup karena saya mau, dan saya malas beralasan, malas menjelaskan. Fenomena sederhana yang cukup dimengerti bagi yang akan melakukan, biarlah orang yang sibuk mencari alasan untuk sebuah perlakukan. Mungkin saja menimbulkan sebuah persepsi, tapi kadang kita cukup malas dengan persepsi, penyamaan persepsi, bukankah telah banyak pakar, penyelenggara  negara, perwakilan yang katanya mewakili rakyat berbeda persepsi dengen benteng alasan yang mengakar dari urusan substansial maupun sepele. 

Memang sebuah pembenaran atas tindakan harus berdasar, apapun dasarnya itu. Dasar yang telah diakui atau memang telah ada sebelum kita ada sampai kita tiada. Maka berjalanlah dengan pasti jika belum menemukan alasan maka teruslah berjalan hingga muncul jawaban-jawaban, alasan-alasan yang akan mengikuti didalam prosesnya. Hipotesa yang terlalu mendalam mungkin akan memberatkan pertimbangan pada keengganan untuk melakukan apa yang akan atau ingin dilakukan 

Dan orientasi hidup tentunya berujung pada ketiadaan, kesiapan untuk sebuah ketiadaan, dan lakukan bila mau, harus berdasar, alasan bisa mengiringi. Kadang sebuah alasan lah yang memang dicari atas tindakan atau sebuah keputusan yang akan dijalankan. 


Friday, 6 February 2015

Padahal tidak

Padahal tidak selamanya berakhir dan bermula, ada sebuah zat yang tetap ada dan Abadi. 

Semuanya berlalu begitu saja, katakanlah ide, cita-cita dan ambisi yang mengepul kemudian menghilang, menjelang waktu berakhir. Waktu yang tiada kosakata terdefinisi dalam segala hal yang terburu dan tertelan begitu saja seperti kejadian setiap pagi padahal baru saja kita terbuka pada pagi yang malas, kemudian terpulas dan terbangun kembali dalam keadaan terkaget-kaget karena persepi lima menit padahal tidak. Padahal tidak, waktu tidak berjalan diatas persepsi, dia hanya ada dan dirasakan. Katakanlah berjalan, berlari , atau melangkah, waktu tetaplah maju, atau tentang beberapa ungkapan tentang waktu yang membeku padahal tidak. 

Sebut saja tentang malam ini, diantara kegusaran yang melanda pikiran, tentang awan kelabu yang beberepa saat yang lalu terlihat ragu menerpa bulan. Diantara sela dan waktu yang telah lama kutinggalkan tulisan ini, dengan sedikit kaku dan terburu semuanya melanda begitu saja, hanya ingin kutulis begitu saja. Padahal tidak, padahal ingin ku rencanakan semuanya, padahal ingin kuwujudkan semuanya dengan tepat, padahal tidak. Dan setiap penyangkalan konyol yang kulayangkan atas diri sendiri, semuanya hanya berakhir begitu saja. tentang sebuah kesuksesan yang bergantung pada persepsi di sekelilingmu, padahal tidak. 

Atau tentang kesombongan yang dirasakan, tentang merasa menjadi manusia luar biasa dengan segala apa yang dimiliki, dirasa, dilihat, padahal tidak. Lalu mengapa masih ada penyangkalan, padahal tidak. Padahal saya bisa, anda bisa, mereka bisa, masalah iya dan tidak memang perlu dilakukan metoda kajian yang cukup mendalam untuk pengambilan keputusan iya dan tidak berdasarkan parameter yang kuantitatif. 

Padahal tidak, hanya kita yang bermula dan berakhir, lalu apakah ini? ini adalah keadaan, ruang, dimensi, waktu, napas, hidup, diantara awal dan akhir, silahkan isi. 

Tuesday, 28 January 2014

Penggalan Bermotif Prolog

Uap kopi telah mengalah pada riuh asap rokok yang tergopoh melawan hembusan angin dari baling-baling kipas yang masih sedia untuk berputar diatas jendala kamar petak yang tak terlalu luas untuk sebuah ruangan dengan kamar mandi seadanya, ditambah dengan sebuah lemari memanjang dan kompor gunung kecil yang siaga memanaskan senesting air untuk menyeduh kopi atau sebagai pertolongan pada keadaan gawat darurat, sebungkus mie instant atau sebutir telur kerap kali sering nongkrong diatasnya.

Batang rokok telah menemui ujungnya, dengan selingan beberapa kali tegukan kopi yang menghangatkan tubuh, atau menghangatkan suasana yang masih basah karena resah yang keliru. Kopi memang bukan sekedar penghangat, tapi lebih dari sebuah rasa yang membawa suasana pada kenyamanan yang hangat walaupun harus kerap mengalah dengan semerbak asap rokok yang terus melanda, seolah menjelma dalam suatu bentuk kenikmatan. Tapi ini bukan cerita tentang asap rokok atau secangkir kopi, ini adalah sebuah lanjutan dari peristiwa besar yang pernah aku alami dengan kombinasi pada saat jentikan jari silih berganti menekan tuts keyboard sementara deretean playlist masih berada pada posnya untuk menunggu giliran dalam mode shuffle, Every's body changing dari Keane berada pada urutan pertama dalam musik pembuka malam ini. Baru saja seperangkat kaos, sweater, dan celana pendek terlempar pada kantong cucian semuanya basah tak bercelah ditimpa hujan rintik yang telah deras dalam sekejap. Masih beruntung rupanya misi utama mengirimkan sebuah paket Bapakku disana telah terselasikan, hanya saja misi kedua untuk mencari sebuah buku dari seorang penulis novel yang baru aku kenal melalui perkenalan antar sahabat belum terpenuhi. Satu jam yang lalu, baru saja aku membereskan resi pembayaran ongkos paket yang dikirimkan bersamaan dalam sebuah amplop coklat berukuran satu setengh kali A4, titik air mulai nampak diatas permukaan tangki motor hitam yang agak kusam namun terlihat mengkilap terbias cahaya neon seadanya, langit malam jakarta selatan masih samar, jarak sekitar dua kilometer dalam hitungan matematika bisa ku tempuh dalam waktu kurang dari lima menit, tapi langit tak menampakkan bintangnya saat ini. Ternyata logika bermain dengan kuat dalam otakku, tanpa berpikir panjang kupacu motor menembus rintik hujan, dua, tiga belokan titik-titik air semakin memenuhi kaca helm full face yang masih melekat di kepalaku, masih bisa tertahan hingga belokan terakhir sebelum jalanan lurus dibawah flyover cassablanca hujan menjadi buas, sentuhan lembut tak lagi kurasakan dari rintik yang menyapa beberapa detik yang lalu, kini hujan menyerbu dalam terjangan rintik yang tak lagi ramah, sebuah keadaan yang memaksa untuk membuat keputusan dalam waktu singkat antara lanjut atau kembali pulang. Tak perlu menunggu hingga satu menit, stang motor langsung terbanting ke kanan berputar menyilang sempat melambatkan sebuah taxi yang melaju tidak terlalu cepat dalam lampu dekat yang semakin menjelaskan rintik yang semakin bertambah, tak ku pedulikan terus berpacu berlomba dengan angin yang membawa rintik semakin buas menerka segala permukaan. Derau rintik yang sumbang sedikit mengaburkan pandangan pada jalan yang aku lalui, sempat beberapa kali kutemui jalan yang berbeda pada saat aku beranjak dari tempat pengiriman paket tadi, sementara basah telah menembus hingga kulit permukaan tubuh bersamaan dengan rasa dingin yang mulai menjalar. Kembali tak kuhiraukan terus saja ku pacu, hingga kembali pada trek yang tadi aku lalui, terus saja, lurus saja, belok lagi, kembali lurus lagi, bintik air mulai berkurang seiring jarak yang semakin dekat dengan arah pulang, dan ditemui hujan yang belum terlalu begitu deras membawa perjalanan yang menyesakkan, sesak karena aku berada diantara para pengendara motor yang masih hangat dengan sedikit bintik air yang menggantung dan jatuh diterpa laju angin motor yang terus berlalu. Gerbang masuk yang belum terlalu basah seperti tersenyum keheranan atau sedikit tertawa melihat penghuninya basah kuyup, ya resah yang berujung basah saat ini.

Ku tuangkan segelas air dari galon yang tak berbungkus dispenser atau tempat air semacamnya, mungkin kamar yang terlalu sempit bisa jadi alasan konyol hingga saat ini belum tercantumnya dispenser dalam dafatar belanja ku bulan ini, atau mungkin waktu yang tidak sempat bisa jadi alasan bodoh lainnya. Tuangkan saja, nyalakan saja kompornya, letakan saja nestingnya, sementara sebuah laptop yang tergelatak diatas kasur busa seadanya telah menanti tuannya untuk segera dicumbui. Sempat ku post beberapa twit dalam account twitter sebelum memulai tulisan ini. "Telah nyata langitnya tak berbintang, masih dipaksakan, resah yang membawa basah  #kabulusan (red : kedinginan)". Dan mari kita mulai cerita yang sempat terpotong oleh kesibukan Ujian Akhir semester sepekan lalu, atau bahkan masih menyisakan satu mata kuliah ujian susulan. Sementara pekerjaan di kantor masih menumpuk bertajuk sibuk, dalam jadwal yang padat, hanya menyisakan malam yang ku lulalui dengan lelusa. Keleluasaan sepertinya belum berlaku pada tulisan ini, jadikan saja ini penggalan bermotif prolog untuk sebuah kisah yang telah nyata dalam keberadaanya, ilustrasikan saja pada persepsi, biarkan imajinasi merotasi pemikiran, terlalu padat jika dimuatkan pada sebuah post atau ku tulis saja dalam bagian yang lain, untuk sebuah peristiwa yang terlalu berharga untuk tak berbagi karena pada saat itu "Bintang itu terlihat di atas langit Mahameru". 

Tuesday, 14 January 2014

Sepenggal Malam di Kalimati

Dilema ini kembali terjadi, ketika Tuhan berbicara melalui ciptaan-Nya, tak sedikitpun keraguan pada-Mu Ya Allah Sang penguasa alam. Hati ini meringis dalam gerimis, hujan-Mu yang membawa kabut menyelimuti mahameru. Diantara nyali dan kebodohan, tekad dan ambisi, tersisip paduan kata-kata ya dan tidak. 

Ya Allah jiwa ini menangis, mengalir dalam aliran cerukan sungai-Mu, semeru, meratapi kebimbangan untuk menjalani tujuan, Ya Allah, hamba berlumur dosa, bernyawa atas kehendak-Mu, bernapas dalam hembusan udara-Mu, terjaga dalam setiap aibku, terlampau jauh wajah ini dalam dekapan-Mu, tapi tak ada lagi pertolongan atas kekuasaa-Mu, Ya Allah, batin ini menjerit memohon memberikan kesmpatan pada hamba-Mu untuk menjejaki kemegahanmu Ya Allah.

Ampunkanlah atas segala kelalaianku, sepenuhnya hamba bersujud padamu, memohon menampakan bintang besok malam pertanda kecerahan dan kuatkan hamba untuk bersujud padamu di puncak mahameru,

Hambamu yang lalai dan berlumur dosa, berserah pada-Mu sepenuhnya kuasa-Mu tiada tara, meniupkan kabut dan menampakan kecerahan serta kekuatan padaku untuk bersujud dan kembali dalam ikhtiar dengan selamat.

***
Ibu, ingin sekali aku mendekapmu menumpahkan segala kebimbanganku dalam hangatnya belaianmu Ibu, selama raga ini bernyawa mungkin tak ada kejutan romantis seperti yang telah kulakukan pada wanita-wanita yang pernah aku anggap sebagai calon pendamping hidup.

Tapi aku ingin belajar romantis padamu, semesra kau mendekapku dalam setiap sujud dua per tiga malammu, berharap kuasa-Nya selalu membimbingku dalam jalan yang diridhai-Nya. Ibu, tak berartinya ini dalam kasih sayangmu padaku, tapi aku cinta padamu, Ibu, dengan segala kesadaranku.

Ibu maam ini aku berada dalam ruangan kosong dengan ransel-ransel yang berjejer menunggu kepastian, dalam senyap rekan-rekan yang tertidut dalam kelelehan, tapi aku masih ingin menulis dalam kebimbanganku, dalam hati yang masih menangis dalam gerimis hujan di kalimati, dalam rencana pendakian yang tertunda, dalam kabut yang masih menyelubungi puncak mahameru. 

Ibu sekali lagi ingin ku mendekapmu, mencurahkan cintaku padamu, sebelumnya telah kutulis surat untuk Allah, dalam do'a, yang berderet dalam goresan tinta malam ini, berharap besok terlihat bintang untuk menampakan kecerahan cuaca, dan berharap diberikan kekuatan untuk mencapai puncak mahameru, menyaksikan kemegahanmu, ciptaan-Nya, bersujud pada-Nya, dan memanjatkan doa untukmu, untukku, Bapakku, dan saudara-saudaraku, abadi dalam surga-Nya.

Dari yang mencintaimu ...

Kalimati, 7 Desember 20130
1.42-01.58 

Wednesday, 23 October 2013

Analogi Sebuah Proses

2 hari sebelum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, siang ini terasa lebih berharga dengan santapan pembuka antara pembicaraan dan diskusi pararel atasan dan bawahan. Pembicaraan diawali dengan penyamaan persepsi dan konsep pemikiran tentang tujuan yang akan dicapai dalam cakupan yang sedang dikerjakan. Seorang atasan yang terkesan dingin dalam asumsi sehari-hari ternyata menyimpan sebuah pemikiran yang belum berujung karena masih perlu ditopang oleh pemikiran-pemikiran segar, sebuah konsep yang mampu dieksekusi dengan baik dan mempunyai patokan yang terarah dan terukur.

Intinya adalah out of the box, sebuah pemikiran yang tak lagi mengindahkan segi-segi technical ataupun kajian. Ya dengan tegas beliau mengatakan demikian, dan sasarannya adalah nilai-nilai yang didapat, akan dirasakan dan mendorong costumer untuk tergerak memilih produk kami tanpa bermain-main dalam penyesuain budget. Tapi ini bukan yang menjadi bahasan pada tulisan ini, ada segelintir pesan moral yang ingin disampaikan oleh beliau, saya anggap sebuah investasi waktu dan pemikiran yang tidak bersentuhan dengan riba, karena tidak membuahkan keuntungan materiil secara langsung.

Analoginya adalah sebuah pohon, ya katakanlah itu pohon mangga. Sebuah pohon mangga yang berdiri dipinggir jalan, di halaman rumah, di perkebunan, bahkan di hutan sekalipun akan hanyalah sebuah pohon mangga yang daunnya akan bergerak jika tertiup angin. 

Seseorang yang akan berjalan akan lewat begitu saja, atau bahkan tak menyadari ada sebuah pohon mangga disana. Berbeda dengan sebuah pohon mangga dengan buah yang lebat, siang pun akan terasa segar rasanya dengan membayangkan buah-buah segar yang bergelantungan di pohon berharap tertiup angin dan jatuh terbelah menjadi potongan-potongan yang siap untuk dilahap.  

Pertanyaannya adalah, apakah buah mangga itu muncul begitu saja ? Tentu tidak. Jauh sebelum buah itu tumbuh dari penyemaian benang sari dan kepala putik, kehidupan itu diawali dengan keluarnya akar untuk tunas-tunas generasi baru, kemudian akar terus bercabang, memunculkan batang di atas permukaan tanah, kemudian kembali bercabang membentuk ranting-ranting. 

Begitu rumit dalam setiap batang yang bercabang, belum lagi ranting yang terus tumbuh tak beraturan, namun pernahkah terpikirkan tentang ini? tentang ranting yang harus menjulur ke kiri atau ke kanan? tentang daun yang harus tumbuh diatas ranting, hingga buah yang muncul pada sebuah pohon? tidakkaah itu sebuah proses? analogi sebuah proses, hingga tak ada yang menyadari kecuali pohon itu sendiri. Pentingkah? ya bagi si pohon, ya bagi si penanam pohon. Lingkungan hanya akan menyadari ketika pohon berbuah.

Ini akan memberikan pemahaman tentang seberapa penting persepsi pada suatu proses, tak terlalu penting, karena persepsi hanya akan mengahambat dalam berekspresi, seperti yang sering kita alami, atau bahkan yang saya alami jika boleh jujur.

Random, Mari Coba Berekspresi Kembali


23.03, Rabu 23 Oktober 2013

Ada banyak sekali kata demi kata yang melintas di otak ini. Sangat kontras dengan apa yang sedang aku perbuat saat ini, statika tak tentu membuat setengah otak ku meledak, membuncahkan amarah akan keterbatasan otak untuk mengingat apa yang telah aku pahami dua tahun silam. Sialnya buku kitab saat ini tidak seajaib catatan hasil goresan penaku terdahulu. Ssangat simple terlampau simple hingga tak bisa ku pahami, banyak sekali coretan pensil penuh frustasi yang tercurahkan dalam symbol tanda Tanya besar.

Tak tahu apalagi yang harus ku perbuat hingga aku lampiaskan saja dalam kata demi kata yang saat ini masih mengalir deras dalam otak. Seakan memahami takdir atau potensi dalam mengolah kata daripada menyusun pembebanan atau, lendutan, putaran sudut dan semacamnya. Slideshow yang silih berganti setiap meniti berisi materi perjalanan alam yang belum lama ini aku jalanni, seakan mengingatkanku kembali ke alam lalu, tanpa paksaan, tanpa usaha sekeras apa aku mengingat, tak seperti mengingat pelajaran mekrek yang dulu sangat aku gemari, tak pernah aku mendapatkan B, always A. Memang agak susah jika hanya terpaku dalam satu memori yang harus itu yang aku cari, atau tentang catatan ajaibku mengenai mekanika rekayasa yang dulu aku banggakan.

Memori itu satu per satu kembali muncul dalam ingatan, tentang petualngan, tentang keheningan, ataupun tentang memejamkan mata di tengah riuhnya suara jangkrik dalam hutan, atau nyanyian burung yang silih bersahut. Ataupun tentang apa yang orang-orang banyak menyebutnya cinta. Ternyata dari sturktur, putaran sudut, ataupun lendutan, bisa sampai ke cinta. Ya mungkin karena terlintas dalam pikiran untuk meminjam catatan adik kelas yang mungkin saja memiliki catatan yang sama karena satu perguruan oleh dosen yang sama.

Entah setan mana yang mengingatkan aku tentang dia, tapi otak ini belum bisa terhenti, ataupun jemari yang kian lincah diatas tombol-tombol alphabet yang berjejer terpaku menanti untuk disentuh bergantian. Kertas yang berserakan ataupun celacah abu rokok yang saling berlomba meramaikan Susana kamar ini, sesekali asap rokok menghampiri layar monitor ataupun dari mulutku yang seesekali mengekuarkan kepulan asap rokok. Dan lagu-lagu yang tak berderet kadang sendu mendayu, kadang mengalun agak keras, ataupun tak kukenali sama sekali. Aaah, mungkin tak ku hiraukan gaya penulisanku saat ini, mungkin aku berbicara sebagai orang pertama yang terlibat dalam tulisan ini.


Yang pasti telah terbesit dalam cita-citaku untuk menjadi seorang penulis buku, entah itu fiksi ataupun ulasan tentang nilai-nilai hidup. Agak berat memang, melihat perjalanan hidupku sendiri yang belum konsisten, kadang baik, kadang benar, kadang ngaco, kadang gila, tapi selama ini aku berhasil untuk menutup rapat dalam sosok yang acuh tak acuh seolah tak peduli, padahal sangat berarti, seolah cuek padalah hati mewek. Tak tahu mengapa, sosok ini tak berdaya untuk berkespresi secara total, baik itu dalam media ataupun dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Sekali lagi, entah dari mana aku memulainya, mungkin susunan memori ini layak untuk menjadi sebiah cerita yang bisa diambil nilai, manfaat, ataupun kegilaan yang kurang baik untuk ditiru, tulisan ini tak bertujuan, hanya pelampiasan amarahku betapa susahnya menampilkan memori dalam otak kiri ini.

Monday, 8 July 2013

Ketika Idealisme Diperkosa Realita

Idealisme adalah sebuah paham yang lebih menekankan tentang keunggulan sebuah pemikiran (mind), roh (soul), jiwa (spirit) daripada keberadaan yang besifat kebendaan ataupun material. Begitulah plato filsuf Yunani didikan socrates mengemukakan pemikirannya tentang sebuah idealisme. 
Apabila dikaji lebih lanjut idealisme bermula pada sebuah pemikiran yang tidak berujung, seperti pengetahuan, walaupun banyak pepatah yang menyebutkan bahwa ilmu sampai di ujung negeri Cina, tapi agaknya pepatah ini harus terdefinisikan kembali, karena pengetahuan tak pernah berujung. 

Dalam alurnya suatu pengetahuan bermula dari pemikiran ataupun proses mengingat yang berulang-ulang hingga terciptanya suatu pemikiran baru, pengetahuan baru dan seterusnya. Idealisme menekankan bahwa kebenaran hanya terdapat dalam jiwa yang berasal dari akal budi, bukan dari panca indera yang bersifat kebendaan, seringkali orang-orang tertipu oleh kesaksian panca inderanya sendiri. 

Berbicara idealis tentang idealis mengingatkan kita pada seorang tokoh idealis yang mati muda, Soe Hok Gie 17/12/1942-16/12/1969. Dia telah memenuhi panggilan jiwanya  untuk beribcara tentang kebenaran, kebenaran yang tak berdasar pada suatu golongan.


 Dia selalu resah hingga dia bertanya pada dirinya seperti dalam salah satu kutipan catatan harian berikut ini. "Soe apa yang sedang kau pikirkan?" Lalu dia sendiri menjawab "Saya sedang memikirkan kehidupan yang menarik, saya sedang memikirkan keindahan dunia ini, saya sedang memikirkan kebesaran manusia, Dan bagaimana saya harus mengisi hidup saya sendiri....." 
Dalam pergerakannya Soe berhasil berperan serta dalam menjatuhkan rezim Sokearno yang pada saat itu sudah tidak sejalan dengan amanat rakyat. Dan tak adalagi hal yang paling puitis selain berbicara tentang kebenaran. 

Tinggalkan sejenak tentang itu, mari beranjak pada realita yang ada di pelupuk mata, realita yang harus ditelan bulat-bulat sebentuk pil pahit, ataupun hisapan candu yang memabukan. Kenyataan yang tak terdefinisikan dengan kondisi yang serba samar, penuh kepalsuan, nyaman berselimutkan abu-abu kehidupan. 

Idealisme saat ini seolah-oleh diperkosa oleh realita yang ada, mau tidak mau, inilah kenyataan yang harus dinikmati terpaksa ataupun tidak, realita tetap terjadi, dan kita seolah-oleh menikmati ini semuanya dengan segala kebendaan ataupun kesaksian panca indera kita. Tak ada lagi idealisme, survival menjadi tameng utama dalam argumentasi permasalahan ini. Pendidikan yang bermakna pembebasan dari belenggu ketidaktahuan akan suatu hal luntur dalam ketidakpaduan antara keperkasaan realita dan idealisme yang feminim, anggun, tapi lemah. Tak ada lagi pembeda antara terdidik dan orang-orang yang masih terbelenggu dalam latar belakang ketidaktahuan, pembedanya hanyalah kebendaan yang terekam dalam kesaksian panca indera. 

Lalu sampai kapan Idelisme yang tertanam dalam hakikat suatu makhluk yang kita sebut manusia rela diperkosa oleh realita yang begitu gagahnya ? Agaknya harus diluruskan pandangan antara ikhlas menerima dengan ketidakpedulian, tipis memang, tapi berujung pada dua tittik yang berbeda, tak ada titik temu sama sekali. Tulisan ini saya dedikasikan bagi saya, dan makhluk-makhluk yang mempunyai panggilan jiwa akan adanya kebenaran yang hakiki, berasal dari akal budi, logika dan penafsiran-penafsiran ataupun mimpi-mimpi atau visi-visi yang masih tak berdaya melawan keperkasaan relita. 

Realisme menafsirkan akan kebenaran yang pasrah, mengalir, mengikuti arus yang ada, tentunya ini akan bertolak belakang dengan idelisme yang membenarkan suatu kebenaran atas penalaran logika, pandangan realisme berpendapat bahwa idealisme hanyalah pemikiran orang-orang sakit jiwa yang tidak terima pada kenyataan. Sulit untuk menemukan titik temu. Seperti Soe Hok Gie yang mati dengan membawa idealisme bangsa yang belum terwujud hingga saat ini. Bahkan dalam nisannya Soe masih resah "Nobody knows the trouble i can see, Nobody knows my sorrow". Idealisme mengantarkan kita akan adanya kesadaran bagian dari keseluruhan, bagian dari badan, warga dari negara, makhluk dari semesta.  

Agaknya filosofi Yin dan Yang pada salah satu pemecahan solusi ketidakseimbangan pada idealisme dan realita yang ada. Dalam padangannya yin dan yang memiki dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan dan saling membangun, dipisahkan dalam garis yang fleksibel dan dinamis, tapi tetap dalam sutu lingkaran keseimbangan. Jika dihubungkan teori plato tentang idealisme mengarahkan pada kesadaran adanya bagian dari keseluruhan mempunyai benang merah yang segaris dengan filosofi yin dan yang. 

Idealisme yang realistis, kebenaran yang berani bersuara walaupun sendiri, realistis dalam ritmenya, semuanya telah berada pada posnya masing-masing, semuanya berada pada peran masing-masing, dalam dunia kebendaan yang penuh kepalsuan, ataupun dunia idealsime yang berbicara tentang kebenaran pemikiran, hitam dan putih, dua warna yang kontras, terdefinisikan dengan jalas, keluar dari zona nyaman abu-abu, berbicara dalam realita, berpikir dalam idealisme, kitalah generasi penegas identitas, penerus visi yang belum tersampaikan, penyair yang berbicara tentang kebenaran. Bagian dari keseluruhan, jadilah bagian yang bertindak, karena bagian akan saling mempengaruhi bagian lain, hingga sampai pada keseluruhan, mulailah menjadi bagian itu, karena bagian itu adalah saya!