Wednesday, 23 October 2013

Analogi Sebuah Proses

2 hari sebelum peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, siang ini terasa lebih berharga dengan santapan pembuka antara pembicaraan dan diskusi pararel atasan dan bawahan. Pembicaraan diawali dengan penyamaan persepsi dan konsep pemikiran tentang tujuan yang akan dicapai dalam cakupan yang sedang dikerjakan. Seorang atasan yang terkesan dingin dalam asumsi sehari-hari ternyata menyimpan sebuah pemikiran yang belum berujung karena masih perlu ditopang oleh pemikiran-pemikiran segar, sebuah konsep yang mampu dieksekusi dengan baik dan mempunyai patokan yang terarah dan terukur.

Intinya adalah out of the box, sebuah pemikiran yang tak lagi mengindahkan segi-segi technical ataupun kajian. Ya dengan tegas beliau mengatakan demikian, dan sasarannya adalah nilai-nilai yang didapat, akan dirasakan dan mendorong costumer untuk tergerak memilih produk kami tanpa bermain-main dalam penyesuain budget. Tapi ini bukan yang menjadi bahasan pada tulisan ini, ada segelintir pesan moral yang ingin disampaikan oleh beliau, saya anggap sebuah investasi waktu dan pemikiran yang tidak bersentuhan dengan riba, karena tidak membuahkan keuntungan materiil secara langsung.

Analoginya adalah sebuah pohon, ya katakanlah itu pohon mangga. Sebuah pohon mangga yang berdiri dipinggir jalan, di halaman rumah, di perkebunan, bahkan di hutan sekalipun akan hanyalah sebuah pohon mangga yang daunnya akan bergerak jika tertiup angin. 

Seseorang yang akan berjalan akan lewat begitu saja, atau bahkan tak menyadari ada sebuah pohon mangga disana. Berbeda dengan sebuah pohon mangga dengan buah yang lebat, siang pun akan terasa segar rasanya dengan membayangkan buah-buah segar yang bergelantungan di pohon berharap tertiup angin dan jatuh terbelah menjadi potongan-potongan yang siap untuk dilahap.  

Pertanyaannya adalah, apakah buah mangga itu muncul begitu saja ? Tentu tidak. Jauh sebelum buah itu tumbuh dari penyemaian benang sari dan kepala putik, kehidupan itu diawali dengan keluarnya akar untuk tunas-tunas generasi baru, kemudian akar terus bercabang, memunculkan batang di atas permukaan tanah, kemudian kembali bercabang membentuk ranting-ranting. 

Begitu rumit dalam setiap batang yang bercabang, belum lagi ranting yang terus tumbuh tak beraturan, namun pernahkah terpikirkan tentang ini? tentang ranting yang harus menjulur ke kiri atau ke kanan? tentang daun yang harus tumbuh diatas ranting, hingga buah yang muncul pada sebuah pohon? tidakkaah itu sebuah proses? analogi sebuah proses, hingga tak ada yang menyadari kecuali pohon itu sendiri. Pentingkah? ya bagi si pohon, ya bagi si penanam pohon. Lingkungan hanya akan menyadari ketika pohon berbuah.

Ini akan memberikan pemahaman tentang seberapa penting persepsi pada suatu proses, tak terlalu penting, karena persepsi hanya akan mengahambat dalam berekspresi, seperti yang sering kita alami, atau bahkan yang saya alami jika boleh jujur.

Random, Mari Coba Berekspresi Kembali


23.03, Rabu 23 Oktober 2013

Ada banyak sekali kata demi kata yang melintas di otak ini. Sangat kontras dengan apa yang sedang aku perbuat saat ini, statika tak tentu membuat setengah otak ku meledak, membuncahkan amarah akan keterbatasan otak untuk mengingat apa yang telah aku pahami dua tahun silam. Sialnya buku kitab saat ini tidak seajaib catatan hasil goresan penaku terdahulu. Ssangat simple terlampau simple hingga tak bisa ku pahami, banyak sekali coretan pensil penuh frustasi yang tercurahkan dalam symbol tanda Tanya besar.

Tak tahu apalagi yang harus ku perbuat hingga aku lampiaskan saja dalam kata demi kata yang saat ini masih mengalir deras dalam otak. Seakan memahami takdir atau potensi dalam mengolah kata daripada menyusun pembebanan atau, lendutan, putaran sudut dan semacamnya. Slideshow yang silih berganti setiap meniti berisi materi perjalanan alam yang belum lama ini aku jalanni, seakan mengingatkanku kembali ke alam lalu, tanpa paksaan, tanpa usaha sekeras apa aku mengingat, tak seperti mengingat pelajaran mekrek yang dulu sangat aku gemari, tak pernah aku mendapatkan B, always A. Memang agak susah jika hanya terpaku dalam satu memori yang harus itu yang aku cari, atau tentang catatan ajaibku mengenai mekanika rekayasa yang dulu aku banggakan.

Memori itu satu per satu kembali muncul dalam ingatan, tentang petualngan, tentang keheningan, ataupun tentang memejamkan mata di tengah riuhnya suara jangkrik dalam hutan, atau nyanyian burung yang silih bersahut. Ataupun tentang apa yang orang-orang banyak menyebutnya cinta. Ternyata dari sturktur, putaran sudut, ataupun lendutan, bisa sampai ke cinta. Ya mungkin karena terlintas dalam pikiran untuk meminjam catatan adik kelas yang mungkin saja memiliki catatan yang sama karena satu perguruan oleh dosen yang sama.

Entah setan mana yang mengingatkan aku tentang dia, tapi otak ini belum bisa terhenti, ataupun jemari yang kian lincah diatas tombol-tombol alphabet yang berjejer terpaku menanti untuk disentuh bergantian. Kertas yang berserakan ataupun celacah abu rokok yang saling berlomba meramaikan Susana kamar ini, sesekali asap rokok menghampiri layar monitor ataupun dari mulutku yang seesekali mengekuarkan kepulan asap rokok. Dan lagu-lagu yang tak berderet kadang sendu mendayu, kadang mengalun agak keras, ataupun tak kukenali sama sekali. Aaah, mungkin tak ku hiraukan gaya penulisanku saat ini, mungkin aku berbicara sebagai orang pertama yang terlibat dalam tulisan ini.


Yang pasti telah terbesit dalam cita-citaku untuk menjadi seorang penulis buku, entah itu fiksi ataupun ulasan tentang nilai-nilai hidup. Agak berat memang, melihat perjalanan hidupku sendiri yang belum konsisten, kadang baik, kadang benar, kadang ngaco, kadang gila, tapi selama ini aku berhasil untuk menutup rapat dalam sosok yang acuh tak acuh seolah tak peduli, padahal sangat berarti, seolah cuek padalah hati mewek. Tak tahu mengapa, sosok ini tak berdaya untuk berkespresi secara total, baik itu dalam media ataupun dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Sekali lagi, entah dari mana aku memulainya, mungkin susunan memori ini layak untuk menjadi sebiah cerita yang bisa diambil nilai, manfaat, ataupun kegilaan yang kurang baik untuk ditiru, tulisan ini tak bertujuan, hanya pelampiasan amarahku betapa susahnya menampilkan memori dalam otak kiri ini.

Monday, 8 July 2013

Ketika Idealisme Diperkosa Realita

Idealisme adalah sebuah paham yang lebih menekankan tentang keunggulan sebuah pemikiran (mind), roh (soul), jiwa (spirit) daripada keberadaan yang besifat kebendaan ataupun material. Begitulah plato filsuf Yunani didikan socrates mengemukakan pemikirannya tentang sebuah idealisme. 
Apabila dikaji lebih lanjut idealisme bermula pada sebuah pemikiran yang tidak berujung, seperti pengetahuan, walaupun banyak pepatah yang menyebutkan bahwa ilmu sampai di ujung negeri Cina, tapi agaknya pepatah ini harus terdefinisikan kembali, karena pengetahuan tak pernah berujung. 

Dalam alurnya suatu pengetahuan bermula dari pemikiran ataupun proses mengingat yang berulang-ulang hingga terciptanya suatu pemikiran baru, pengetahuan baru dan seterusnya. Idealisme menekankan bahwa kebenaran hanya terdapat dalam jiwa yang berasal dari akal budi, bukan dari panca indera yang bersifat kebendaan, seringkali orang-orang tertipu oleh kesaksian panca inderanya sendiri. 

Berbicara idealis tentang idealis mengingatkan kita pada seorang tokoh idealis yang mati muda, Soe Hok Gie 17/12/1942-16/12/1969. Dia telah memenuhi panggilan jiwanya  untuk beribcara tentang kebenaran, kebenaran yang tak berdasar pada suatu golongan.


 Dia selalu resah hingga dia bertanya pada dirinya seperti dalam salah satu kutipan catatan harian berikut ini. "Soe apa yang sedang kau pikirkan?" Lalu dia sendiri menjawab "Saya sedang memikirkan kehidupan yang menarik, saya sedang memikirkan keindahan dunia ini, saya sedang memikirkan kebesaran manusia, Dan bagaimana saya harus mengisi hidup saya sendiri....." 
Dalam pergerakannya Soe berhasil berperan serta dalam menjatuhkan rezim Sokearno yang pada saat itu sudah tidak sejalan dengan amanat rakyat. Dan tak adalagi hal yang paling puitis selain berbicara tentang kebenaran. 

Tinggalkan sejenak tentang itu, mari beranjak pada realita yang ada di pelupuk mata, realita yang harus ditelan bulat-bulat sebentuk pil pahit, ataupun hisapan candu yang memabukan. Kenyataan yang tak terdefinisikan dengan kondisi yang serba samar, penuh kepalsuan, nyaman berselimutkan abu-abu kehidupan. 

Idealisme saat ini seolah-oleh diperkosa oleh realita yang ada, mau tidak mau, inilah kenyataan yang harus dinikmati terpaksa ataupun tidak, realita tetap terjadi, dan kita seolah-oleh menikmati ini semuanya dengan segala kebendaan ataupun kesaksian panca indera kita. Tak ada lagi idealisme, survival menjadi tameng utama dalam argumentasi permasalahan ini. Pendidikan yang bermakna pembebasan dari belenggu ketidaktahuan akan suatu hal luntur dalam ketidakpaduan antara keperkasaan realita dan idealisme yang feminim, anggun, tapi lemah. Tak ada lagi pembeda antara terdidik dan orang-orang yang masih terbelenggu dalam latar belakang ketidaktahuan, pembedanya hanyalah kebendaan yang terekam dalam kesaksian panca indera. 

Lalu sampai kapan Idelisme yang tertanam dalam hakikat suatu makhluk yang kita sebut manusia rela diperkosa oleh realita yang begitu gagahnya ? Agaknya harus diluruskan pandangan antara ikhlas menerima dengan ketidakpedulian, tipis memang, tapi berujung pada dua tittik yang berbeda, tak ada titik temu sama sekali. Tulisan ini saya dedikasikan bagi saya, dan makhluk-makhluk yang mempunyai panggilan jiwa akan adanya kebenaran yang hakiki, berasal dari akal budi, logika dan penafsiran-penafsiran ataupun mimpi-mimpi atau visi-visi yang masih tak berdaya melawan keperkasaan relita. 

Realisme menafsirkan akan kebenaran yang pasrah, mengalir, mengikuti arus yang ada, tentunya ini akan bertolak belakang dengan idelisme yang membenarkan suatu kebenaran atas penalaran logika, pandangan realisme berpendapat bahwa idealisme hanyalah pemikiran orang-orang sakit jiwa yang tidak terima pada kenyataan. Sulit untuk menemukan titik temu. Seperti Soe Hok Gie yang mati dengan membawa idealisme bangsa yang belum terwujud hingga saat ini. Bahkan dalam nisannya Soe masih resah "Nobody knows the trouble i can see, Nobody knows my sorrow". Idealisme mengantarkan kita akan adanya kesadaran bagian dari keseluruhan, bagian dari badan, warga dari negara, makhluk dari semesta.  

Agaknya filosofi Yin dan Yang pada salah satu pemecahan solusi ketidakseimbangan pada idealisme dan realita yang ada. Dalam padangannya yin dan yang memiki dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan dan saling membangun, dipisahkan dalam garis yang fleksibel dan dinamis, tapi tetap dalam sutu lingkaran keseimbangan. Jika dihubungkan teori plato tentang idealisme mengarahkan pada kesadaran adanya bagian dari keseluruhan mempunyai benang merah yang segaris dengan filosofi yin dan yang. 

Idealisme yang realistis, kebenaran yang berani bersuara walaupun sendiri, realistis dalam ritmenya, semuanya telah berada pada posnya masing-masing, semuanya berada pada peran masing-masing, dalam dunia kebendaan yang penuh kepalsuan, ataupun dunia idealsime yang berbicara tentang kebenaran pemikiran, hitam dan putih, dua warna yang kontras, terdefinisikan dengan jalas, keluar dari zona nyaman abu-abu, berbicara dalam realita, berpikir dalam idealisme, kitalah generasi penegas identitas, penerus visi yang belum tersampaikan, penyair yang berbicara tentang kebenaran. Bagian dari keseluruhan, jadilah bagian yang bertindak, karena bagian akan saling mempengaruhi bagian lain, hingga sampai pada keseluruhan, mulailah menjadi bagian itu, karena bagian itu adalah saya!




Monday, 24 June 2013

Diantara Gede dan Pangrango


Diantara Rintihan embun yang menetes, 
Mentari menari termalu-malu melewatkan senyap terbungkus malam yang deras
Ketika dilemma terbalut ragu
Antara Gede dan Pangrango

Seberkas waktu beranjak dari Kandang Badak
Tertanam rambu ke tiga penjuru,
Gede, Pangrango, atau turun kembali sebagai PECUNDANG sejati

Derap langkah berjejak di lembabnya gunung Gede
Membawa perjalanan untuk bertemu di tugumu
Diantara tebing-tebingmu,
Kami beranjak bertopang pada temali penyambung harapan,

Dalam langkah yang mulai gontai
Dalam Hembus napas yang mulai terhambat,
Kabut tipis pun turun dalam gemulainya angin lembah 
Kawah Raden yang berujung di palung Bumi terdalam
Menggoreskan makna yang kontras dalam tebing-tebing puncak Gunung Gede

Kawan, hari ini adalah sejarah kehidupan
Yang berawal dari tekad

Diantara Gede dan pangrango
Hari ini kau pamerkan pesonamu,Gunung gede
Seakan berpesan
Tuk tambatkan tekadmu Gunung pangrango

11.30, Puncak Gunung. Gede
Firmansyah Permadi, 27 Desember 2011

PUNCAK AMARAH


Ketika darah bergejolak dalam jiwa 
Ketika amarah terbakar dalam otak
Ketika kekesalan datang silih berganti
Ketika jiwa ini mulai tak terkendali
Ketika pikiran ini kalut dengan segela kesialan malam ini
Ketika jari tangan ini mulai lelah untuk menekan tombol-tombol yang berderet di depan layar

Ketika nafsu memenuhi mulut kawah yang segera meledak
Mengeluarkan debu yang penuh dosa
Menyirami dengan asam kebencian
Mematika rasa

Puncak amarah ini harus segera ku lalui
Menuruni lembah kedamaian
Dimana kutemukan itu ?

Tasikmalaya, 25-2-2010
Firmansyah Permadi

Tuesday, 18 June 2013

Konsep Terbalik, Hidup Untuk Mati

Ada berbagai macam pemahaman bahwa kita hidup, menjalin kehidupan dengan penghidupan. Tak ada salahnya kita coba buka kembali pelajaran sewaktu kita masih dibangku sekolahan, pelajaran yang memberikan hakikat biologis bahwa kita hidup.

Bernapas, bergerak, nutrisi, tumbuh, reproduksi, regulasi, ekskresi, dan peka terhadap rangsangan, mari kita tinjau kembali apakah ciri-ciri tersebut masih ada dalam tubuh ini? atau ada dalam salah satu dari ciri-ciri biologis tersebut yang sudah tidak bisa lagi kita terbuat ? masih hidupkah kita ? atau setengah mati? atau setengah hidup? , tapi titik permasalahannya bukan apakah kita masih hidup atau tidak, tapi bagaimana kita akan mati. 

Kematian merupakan rahasia dari Tuhan yang tak satu manusia pun tahu, apabila kita tarik garis dari titik kelahiran hingga kematian, maka bagaimanapun seseorang hidup, akan tetap berujung pada simpul kematian, kematian di kehidupan fana, hingga dihidupkan kembali untuk menjalani keadilan yang sesungguhnya dihadapan Sang-Pencipta. 


Telah banyak teori kemanusiaan tentang konsep hidup, tapi dimanakah konsep itu berujung ? seringkali konsep hidup berujung pada kesuksesan yang abstrak. Sukses yang perspektif menurut isi kepala masing-masing. Setidaknya sampai saat ini belum ada satuan, atau besaran yang resmi untuk pengukuran kesuksesan seseorang. 

Manusia dengan kecerdasannya akan mengupayakan setiap usahannya dalam menjalani kehidupan, baik yang terkonsep, maupun berjalan seperti apa adanya. Namun terbesitkah dalam pemikiran untuk memasukan kematian ke dalam salah satu konsep dalam menjalani kehidupan ? "Buat apa? ini hanya akan mematahkan semangat dalam mengusahakan". Ya, mungkin seperti itulah pemikiran yang penuh dengan pemahaman akan logika yang sangat kuat, terlalu kuat bahkan mengalahkan segala macam regulasi terkait masalah keyakinan.

Ada semacam pemahaman yang tak membutuhkan logika untuk meyakininya, itulah Iman, dengan butir-butir yang tertuang dalam rukun Iman, kita wajib meyakininnya, mengesampingkan logika dan menjalani dengan ikhlas, termasuk kematian. Kematian termasuk dalam salah satu bagian dari Iman terhadap Qoda dan Qodar, takdir yang telah dituliskan jauh sebelum kehidupan itu dimulai. Bahkan segala hal yang menyangkut dari manusia itu sendiri, termasuk jodoh dan rezeki. 


Oleh karena itu pada episode ini, mari kita sedikitnya memasukan kematian pada daftar kesuksesan yang akan kita capai, melalui proses kehidupan ini. Inilah konsep terbalik dimana kita tentukan target akhir yang akan kita capai dengan segala perencanaan dan implementasi kita di kehidupan ini. Ketahuialah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini tak lebihnya dari setetes air di lautan samudra jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat nanti. Ibarat pembalap yang akan terus melaju sebelum garis finish terlewati, maka selama itu kita melaju, berpikir, bertindak, untuk mencapai garis tersebut. Dan siapkah kita mengahadapinnya? Kapan kita harus mulai mempersiapkan? garis finish masih menjadi misteri, bahkan detik ini juga bisa saja langsung terlihat, jadi apa yang harus kita tunggu? 



Wednesday, 5 June 2013

Tarian Dalam Siluet

Siluet dalam bahasa fotografi adalah suatu efek yang dihasilkan karena adanya perbedaan signifikan antara pantulan cahaya objek utama di bagian depan gambar dengan latar belakangnya. Dalam sebuah siluet, para seniman fotografi menerjemahkan objeknya dalam alur drama dan emosi yang begitu mengesankan.


Cara terbaik untuk mendapatkan sebuah siluet adalah dengan memanfaatkan cahaya natural, ya cahaya yang bahkan tak ada satu makhluk di alam semesta ini  mampu untuk menciptakannya, cahaya matahari. Waktu terbaik untuk mendapatkan siluet adalah ketika matahari bereada pada permukaan terendahnya, yaitu ketika matahari terbit atau terbenam. 

Dalam sebuah siluet, objek membisu dalam rangkaian imajinasi yang terangkai antara latar dan garis-garis yang membentuk setiap lekuk objeknya. Mari kita sebut saja siluet sebagai sudut pandang orang ke tiga, dia. Dia berada diantara pertanyaan dan pernyataan. Mengundang pertanyaan bagi setiap orang yang melihatnya, dan menimbulkan pernyataan atas jawaban imajinasinya. 

Namun kita tidak membicarakan siluet dalam harfiah fotografi, lebih dari itu, sebuah tarian dalam siluet. Emosi, perasaan, atau apapun istilah orang menyebutnya yang tertuang dalam bingkai-bingkai kenyataan. Tentu kita setuju bahwa tak selamanya seseorang berada dalam terang dan tak selamanya berada dalam gelap. Tapi apapun itu dalam setiap fase terang dan gelap kita masih melakukan hal yang sama, bernapas. Tarian udara yang masuk dan keluar menembus paru-paru kita mentasbihkan sepenuhnya bahwa kita masih berada dalam alam yang sama, napas yang sama, dalam hidup. 

Fase terang dan gelap tecermin pada sebuah siluet antara objek dan latarnya, siluet dalam gelapnya menampakkan ketegasan akan adanya suatu bentuk pada latar yg melebihi dari bias cahaya. Siluet bisa saja menjadi sebuah misteri, teka-teki, dan kembali pada hakikatnya, sebuah pertanyaan. Objek pada siluet merupakan pencerminan dari sosok diri kita, dan masihkah ada pada tegasnya gelap? atau menunggu hingga matahari kembali bergerak, memudarkan sedikit demi sedikit kegelapan dalam siluet, hingga nyatalah objeknya? atau kembali terbenam dalam malam menelan objek dan latarnya dalam kegelapan yang tak berbentuk?


Misteri ini akan terus berlanjut selama belum ada pernyataan yang mengimbangi semua pertanyan-pertanyaan yang muncul dalam setiap lekuk kehidupan. Maka menarilah ketika dalam siluet, karena siluet pada hakikatnya adalah proses antara objek dan latar yang menghasilkan output ketika matahari telah bereada pada momentum untuk menampakan objeknya secara nyata, jelas dan jujur. 

Siluet akan menampakan kembali objeknya ketika matahari terbit atau terbenam, sehingga menyajikan dua pilihan tentang berada dimanakah siluet yang kita bentuk? dalam terbit atau pada terbenam.  Banyak teori mengemukakan hidup ini adalah pilihan, tapi memilih bukan berarti ada hak dalam setiap penguasaan segi kehidupan, ada hal-hal yang mutlak kita hanya bisa menerimannya, mengimaninya, ya hal bahwa kita adalah ciptaan-Nya, bergerak, berusaha, dan yakin pada-Nya. 

Maka teruslah menari, teruslah berusaha, bergerak, mengejar matahari yang menampakan objeknya yang nyata, jelas dan jujur, dan  jika terlalu sore maka tunggulah esok pagi, matahari akan kembali bersinar. 


Dan inilah suatu episode kehidupan dimana momentum yang tepat akan menampkan objeknya secara jelas, nyata, dan jujur. Sebuah kesan emosianal terhadap pengagum siluet, dan pesan yang tersampaikan didalamnya, menari dalam imajinasi, memendarkan setiap lekuk objeknya. Seperti pagi hari di sebuah puncak yang megah, sementara awan-awan mulai berkawan menari gemulai. 







Tuesday, 4 June 2013

Sebuah Awal

Mungkin sudah terlalu naif lagi untuk membicarakan tentang sebuah kehidupan, semuanya begitu semu, bias dan tak terdefinisikan  hanya beberapa penyangkalan teoritis yang seolah-olah dibuat realistis dalam kehidupan pragmatis. 

Ada suatu penyangkalan yang memberikan sebuah titik terang akan adanya dinamisme kehidupan yang merujuk kedalam sebuah idealisme manusia, dengan isi kepala yang sangat beragam dan dalam pola tingkah laku yang berbeda. Hal ini bermuara pada sebuah usaha yang dilakukan untuk meyakinkan, atau keyakinan yang menimbulkan suatu usaha, ya, seperti sebuah domino yang saling memberikan efek satu sama lainnya. 


Usaha dan keyakinan dua hal itu akan saling berpengaruh dan memempengaruhi aspek-aspek lainnya. Ini akan terus berjalan selayaknya waktu yang tak lelah untuk terus memutarkan rodanya. Dan seberapa besar sebuah pengaruh mengubah pola kehidupan kita? realtif... 

Walaupun seorang fisikawan macam Albert Einstein telah mengemukakan pendapatnya dengan teori relativitas yang seolah bersebrangan dengan teori gerakan menurut Bapak Issac Newton, kedua teori ini belumlah bisa memecahkan akan permasalahan ini. Seberapa besar sebuah pengaruh terhadap pola kehidupan seorang manusia belumlah bisa diukur dengan satuan ataupun besaran tertentu, bahkan dengan nilai konstanta tertentu. 

Konsistensi dari suatu pemikiran dan hasil akhir berupa sebuah tindakan belum bisa menjamin jika itu adalah murni dari sebuah pemikiran, masih banyak kemungkinan yang belum terungkapkan. tapi agaknya usaha dan keyakinan untuk saat ini merupakan suatu pandangan yang logis dalam menumbuhkan sebuah tekad, niat, itikad, pemikiran ataupun hal-hal lain yang bermakna memulai, atau melanjutkan, atau membaharui, atau memperbaiki. Ya memang banyak sekali kata untuk mewakili itu semua, sudut pandang sebagai orang pertama merupakan sebuah pengaruh yang cukup besar dalam penentuan kata-kata ini. 

Dan inilah sebuah tekad, untuk mendokumentasikan tulisan dari pemikiran rumit yang disederhanakan melalui sebuah alur dan tempo. Karena pada hakikatnya manusia yang paling baik adalah yang dapat meberikan sebanyak-banyak bagi orang lain, maka semoga tulisan ini dapat memberikan setitik manfaat dalam melangkahkan kaki untuk meninggalkan jejak-jejak kehidupan ini. Ya, kembali ke style apa yang kita pilih? berlari, berjalan, melangkah, ataupun merangkak. 



Inilah sebuah awal, sebuah langkah kecil yang semoga meninggalkan jejak-jejak yang bermanfaat untuk ditelusuri, seperti gunung yang menjulang, ataupun puncak yang megah, atau lembah edelweiss yang menebarkan aroma kejujuran, kita melangkah dan kembali mengikuti jejak-jejak yang kita buat.